pasukan suriah di palmyraDamaskus, LiputanIslam.com – Pasukan pemerintah Suriah berhasil membebaskan sepenuhnya kota kuno Palmyra (Tadmur) dari cengkraman pasukan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Minggu (27/3).

Al-Mayadeen melaporkan bahwa tentara Suriah berhasil membebaskan kota kuno yang diduduki ISIS sejak 21 Mei 2015 itu setelah bertempur selama beberapa hari.

Sumber militer Suriah menyatakan sebanyak lebih dari 450 teroris takfiri ISIS tewas dalam proses pembebasan kota di pinggiran provinsi Homs tersebut.

“Pertempuran berat dan sengit pasukan Suriah melawan kelompok teroris takfiri ISIS dalam beberapa hari terakhir yang berujung pembebasan kota strategis ini menewaskan lebih dari 450 teroris dan melukai banyak lainnya. Kelompok teroris ini kalah telak,” ungkap sumber anonim itu kepada RT.

Sumber itu menambahkan bahwa pasukan Suriah kini sedang dalam proses pembersihan Palmyra dari ranjau dan bahan-bahan peledak aktif lain yang dipasang ISIS di berbagai tempat, sedangkan pasukan ISIS yang tersisa telah kabur secara sporadis ke distrik al-Sakhnah, kota Raqqah dan kota Deir al-Zor.

Kekalahan ISIS di Palmyra menjadi pukulan telak bagi ISIS karena keberadaan pasukan Suriah di kota ini akan menjadi pendahuluan untuk gerak maju mereka menuju provinsi Deir al-Zor, Raqqah dan Wadi al-Furat yang dikuasai ISIS.

Kota Palmyra juga dikenal dengan sebutan “Pengantin Gurun” dan merupakan puing di tengah gurun yang semula merupakan kota monumental dalam rute perniagaan yang menghubungkan Persia, India, dan Tiongkok dengan Kekaisaran Romawi.

Keberadaannya sebagai kota persinggahan di persimpangan peradaban kuno terlihat dari paduan corak arsitektur kuil-kuil dan pilar-pilarnya.

Sejarawan dan novelis Inggris Tom Holland menyebut situs itu sebagai kombinasi mempesona pengaruh klasik, Iran, dan Arab. Karena itu dia memastikan bahwa jika Palmyra sampai hancur maka hal ini bukan hanya merupakan kehilangan bagi Suriah, melainkan juga bagi seluruh masyarakat dunia.

Pada Juni 2015, Dirjen Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB (Unesco) Irina Bokova mengingatkan bahwa kerugian besar akan menimpa umat manusia jika situs sejarah Palmyra sampai menjadi sasaran vandalisme ISIS.

Karena itu, khalayak dunia kini tentunya lega setelah situs sejarah itu kembali jatuh ke tangan pasukan Suriah dan terlepas dari tangan gerombolan teroris yang paling brutal di muka bumi.

ISIS adalah kelompok yang mengatasnamakan Islam dalam menebar angkara murka, dan ada bukti-bukti kuat bahwa Zionisme berada di balik fenomena ISIS.
ISIS yang juga didanai oleh rezim-rezim konservatif Arab semisal Arab Saudi digunakan sebagai monster terutama untuk mengacaukan Suriah dan Lebanon yang sejak dulu pantang berkompromi dengan Israel. (Baca: Asosiasi Wartawan Palestina: 5000 Anggota ISIS Dirawat Israel)  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL