roket yamanSanaa, LiputanIslam.com – ِSumber-sumber Yaman menyatakan pasukan relawan Yaman pro-Ansarallah (Houthi) telah menggempur posisi-posisi tentara Arab Saudi di provinsi Marib dengan roket-roket buatan Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan dilaporkan pula bahwa pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mengalami problema perpecahan akibat berbagai faktor.

Sebagaimana dilaporkan Fars News dari Sanaa, ibu kota Yaman, Selasa (10/11), kelompok pasukan rakyat Yaman Brigade Zeid bin Ali yang berafiliasi dengan Ansarallah (Houthi) menyatakan pasukan relawan ini telah menggempur tempat-tempat konsentrasi tentara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di provinsi Marib di bagian timur Yaman dengan roket-roket buatan AS hasil rampasan.

“Kelompok-kelompok relawan dalam operasi serangan sebelumnya di provinsi Marib berhasil merampas banyak roket buatan AS dari posisi kelompok-kelompok teroris, dan sekarang roket-roket ini digunakan untuk menggempur tentara Saudi dan Emirat,” ungkap juru bicara Brigade Zeid bin Ali, Sharif Hasan.

Dia menambahkan bahwa jumlah roket hasil rampasan itu cukup besar, sebab banyak kawanan teroris tak sempat memakainya karena tidak mengerti cara penggunaannya.

Sumber Yaman lainnya menyatakan para pemuda provinsi al-Dale’a telah bergabung dengan pasukan Yaman untuk mengikuti “operasi pembebasan, kemerdekaan, kebebasan dan kehormatan.”

Sumber-sumber di kota Damat memastikan pasukan Yaman terus bergerak maju di kawasan ini, dan belakangan ini berhasil membebaskan dan menguasai “sebuah zona militer dan dua kawasan strategis.”

Di pihak lain, milisi Yaman pro-presiden pelarian Abd Rabbuh Mansur Hadi kepada DPA mengaku berhasil menahan serangan dan gerak maju tentara Yaman dan milisi Ansarallah (Houthi) dalam pertempuran di provinsi al-Dale’a.

Mereka menyatakan telah jatuh beberapa korban tewas dan luka di pihak tentara Yaman dan Ansarallah. Mereka juga bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan lawan-lawannya masuk ke wilayah selatan Yaman lagi.

“Dengan dukungan pasukan koalisi, kami dalam kondisi siap sepenuhnya untuk berperang dengan pasukan Houthi dan tentara loyalis Shaleh (mantan presiden Yaman). Kami tidak akan pernah membiarkan mereka menguasai lagi wilayah selatan dan bergerak menuju provinsi Aden sebagaimana yang mereka rencanakan,” ungkap sumber anonim itu, sebagaimana dilansir Rai al-Youm.

Di bagian lain laporannya, Rai al-Youm menyebutkan adanya perselisihan internal dalam barisan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, baik secara politik maupun dalam konteks lapangan sehingga bahkan ada tentara yang desersi, sementara elemen-elemen politiknya saling tuding khianat.

Menurut Rai al-Youm, terdapat sensor berita yang ketat terkait perkembangan situasi di lapangan oleh media Saudi, terutama setelah belakangan ini tentara Yaman dan milisi Ansarallah ternyata dapat bergerak cepat lagi, sementara Saudi yang sudah lebih dari delapan bulan memimpin serangan pasukan koalisi di Yaman tak dapat mencapai satupun di antara beberapa targetnya, termasuk memulangkan Mansur Hadi dari Ridyah, Saudi, ke Yaman, merebut Sanaa, dan memusnahkan gudang-gudang senjata di Yaman.

Koran al-Akhbar juga memuat laporan serupa dengan menyebutkan bahwa perpecahan dalam tubuh koalisi antara lain dipicu oleh perselisihan antara UEA dan Partai al-Islah di Yaman. Partai ini beraliran politik Ikhwanul Muslimin, sementara UEA sangat memusuhi aliran ini. Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan Saudi untuk membatasi pengaruh UEA dalam isu Yaman.

Celakanya lagi, Mansur Hadi yang pro-Saudi berselisih tajam dengan perdana menterinya, Khaled Bihah, yang didukung UEA dan juga berstatus pelarian. Akibat perselisihan ini sedikitnya sudah dua kali UEA menarik sebagian pasukannya dari Yaman, dan sebagai gantinya UEA mengirim ratusan pasukan bayaran dari Kolumbia melalui perusahaan jasa keamanan Black Water, AS.

Sementara itu, juru bicara Ansarallah, Hussein al-Houthi, menyatakan pihaknya berhasil mengembangkan kekuasaannya di Selat Bab al-Mandeb.

Sebagaimana dilansir Fars News, dia mengatakan bahwa pasukan Komite Revolusi yang berafiliasi dengan Ansarallah dan didukung tentara Yaman kawasan selat itu sekarang sudah “menghirup nafas kebebasan baru”.
“Pasukan Komite Revolusi dengan dukungan tentara Yaman telah melakukan operasi penyisiran teroris dan milisi pro-Hadi di kawasan itu,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa kawanan teroris bayaran yang didukung serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi bermaksud menduduki selat itu demi keamanan dan kepentingan Rezim Zionis Israel, namun mereka akhirnya mundur dan ke provinsi-provinsi di bagian selatan Yaman setelah menderita banyak kerugian jiwa dan materi akibat serangan Komite Rakyat dan tentara Yaman.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL