mesir husain haekal cbcKairo, LiputanIslam.com – Penulis ternama Mesir Husain Haekal kembali membuat pernyataan kritis tentang pendirian negara-negara Arab terhadap Republik Islam Iran. Penulis buku “Sejarah Hidup Muhammad” ini sudah lama menghilang dari pentas publik namun belakangan dijadwalkan tampil lagi secara rutin melalui acara mingguan “Mesir Di Mana, Dan Mesir Ke Mana?” pada stasiun TV CBC yang dimulai sejak Jumat (3/4/2015). Dia mengaku sengaja tampil lagi karena dalam sisa-sisa usianya ini dia merasa terpanggil untuk angkat bicara setelah menyaksikan carut marut dunia Arab.

“Pada hakikatnya saya ingin absen untuk waktu yang lama, sehingga terkadang merasa asing di lapangan sesuai usia dan banyak sekali faktor lain. Namun aneka peristiwa yang terjadi susul menyusul memanggil setiap insan yang masih memiliki rasa kepedulian dalam bentuk apapun untuk berbicara dan berpartisipasi dalam urusan publik, walaupun dari kejauhan,” katanya dalam mengawali pernyataan pada acara talk show TV Mesir tersebut, sebagaimana dikutip situs Almrsd.

Dia mengaku kecewa melihat paradigma negara-negara Arab terhadap Iran serta menilainya lebih mengutamakan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) daripada dengan Iran.

“Kita kehilangan Iran secara tanpa alasan dan semata-mata hanya demi menjaga hubungan dengan AS. Ini memprihatinkan sekali… Saya sangat kecewa terhadap cara negara-negara Arab memperlakukan Iran. Sama sekali tidak perlu berinteraksi dengan cara demikian. Di Paris saya berjumpa dengan Imam Khomaini dan mendengarkan kata-katanya. Setengah jam dia berbicara dengan Rektor Universitas al-Azhar Syeikh Mahmud Syaltut. Dia sangat memuji jerih payah Syeikh Syaltut menggalang pendekatan antarmazhab Islam, ” paparnya dalam acara tersebut, sebagaimana dilansir IRNA.

Dia mengatakan lagi, “Ironis sekali, kita kehilangan hubungan kita dengan Iran secara tanpa alasan dan hanya demi kepentingan AS. AS tahu persis bahwa sebagian negara Arab salah faham terhadap revolusi Islam di Iran, dan AS memanfaatkan kesalah fahaman ini. AS melakukan tindakan yang sekiranya membuat kita lupa terhadap perjuangan melawan Israel. Sebagai gantinya, kita menjadi terjerumus dalam konflik Sunnah-Syiah.”

Haekal menentang keras polarisasi dunia Arab dalam dua poros Sunni dan Syiah.

Pembelahan dunia Arab menjadi Sunni dan Syiah adalah satu kejahatan terbesar dalam sejarah Islam,” tegasnya.

Mengenai Suriah dia mengatakan bahwa keberhasilan presiden negara ini, Bashar al-Assad, dalam mempertahankan diri dan tetap berkuasa dalam lima tahun ini merupakan satu kenyataan yang tak dapat diabaikan.

“Mesir dapat memainkan peranan positif untuk mengatasi krisis Suriah,” imbuhnya.

Dia juga menilai Yaman sebagai gunung berapi yang sebelumnya diam di daratan selatan Semenanjung Arab.

“Letusan gunung berapi ini akan menjangkau seluruh kawasan, dan berpengaruh signifikan terhadap negara-negara Teluk,” tuturnya.

Dia menyayangkan opsi militer yang dipilih Arab Saudi dalam memperlakukan perkembangan situasi politik di Yaman.

“Perang bukan sesuatu yang kita mesti gunakan di tahap awal. Sebelum itu kita garus mempelajari sejauh mana Arab Saudi mampu membayar harga perang,” ungkapnya.

Dia memastikan bahwa negara-negara Arab dewasa ini sedang terdera perpecahan, kehancuran, depresi, frustasi dan kevakuman kepemimpinan yang semuanya diakibatkan oleh dilema terorisme.

“Pasukan sebagian negara Arab benar-benar gagal menghadapi terorisme… jumlah korban terorisme di negara-negara Arab lebih besar dari jumlah korban perjuangan melawan rezim Zionis Israel, dan sekarang Arab sudah tidak lagi memiliki sosok yang layak disebut pahlawan atau syahid,” ujar Haekal.

Dia menilai isu Palestina sekarang bukan lagi isu utama konflik Timur Tengah, sebab beberapa negara seperti Irak, Suriah dan Libya sepenuhnya telah terlibat perang. Dia juga menyebut Gaza sebagai bom yang jika meledak juga akan menghancukan Mesir. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL