tentara israel di golan2TelAviv, LiputanIslam.com – Rezim Zionis Israel dilaporkan telah melobi pemerintah Rusia menyusul merebaknya kekuatiran di seantero Israel terhadap kemungkinan terjadinya serangan balasan telak dari Iran dan Hizbullah, Lebanon, terkait tindakan fatal militer Israel di Quneitra, Dataran Tinggi Golan, Suriah.

Berbagai media Israel menyebutkan bahwa Tel Aviv memastikan kepada Moskow bahwa Israel tidak menghendaki memburuknya situasi keamanan, apalagi sampai mengarah kepada perang total. Karena itu Tel Aviv meminta Moskow supaya turun tangan mengendalikan situasi agar tidak mengarah kepada krisis.

Seperti diketahui, sebuah helikopter Israel beberapa waktu lalu menembakkan dua roket kepada sekelompok pejuang Hizbullah di distrik Mazra’ah al-Amal, Quneitra, Suriah, mengakibatkan enam pejuang Hizbullah dan satu jenderal Iran dari Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) gugur.

Sejak itu sampai sekarang Israel menantikan statemen Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah terkait tindakan yang akan ditempuh milisi tangguh ini menyusul serangan Zionis tersebut, sementara Komanan Umum Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Mohammad Ali Jafari sudah mengingatkan Israel supaya bersiap-siap menghadapi “halilintar mematikan”. (Baca: IRGC: Israel Harus Bersiap-Siap Hadapi Maut)

Di Suriah, panglima angkatan bersenjata negara ini sudah pasang badan di kawasan Dataran Tinggi Golan. Kata para pemerhati, hal ini juga merupakan pesan jelas bagi Israel.

Terkait lobi Israel terhadap Rusia, TV Israel Channel 10 menyebutkan bahwa Rusia dipilih karena memiliki hubungan baik dengan Iran, Suriah dan Hizbullah, sementara TV Israel Channel 2 menyatakan bahwa sumber-sumber militer Israel tahu persis bahwa balasan Hizbullah akan serius dan bersifat pasti.

“Pesan Israel kepada Hizbullah ialah bahwa jika balasan memang pasti akan dilakukan maka sasaran hendaknya bukan warga sipil agar kami tidak memberikan respon yang lebih telak. Sedangkan jika sasarannya adalah tentara Israel maka kami juga membalas, namun masih akan konsisten dengan aturan main yang ada di antara kedua belah pihak,” ungkap Channel 2.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon mengatakan, “Negara-negara dan kelompok-kelompok yang berada di balik perbatasan utara (menunjukkan pada Suriah dan Lebanon) harus bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi di wilayah mereka.”

Dalam sidang evaluasi Israel atas situasi nasional, khususnya di wilayah permukiman di bagian utara, Ya’alon menambahkan, “Kami tahu bagaimana kami akan memberikan respon lunak, namun bagi kedua pihak yang berniat menjadikan kami sebagai sasaran perlu kami jelaskan bahwa kami tidak akan menolerir segala bentuk serangan.”

Koran Israel Yedioth Ahronoth (YA) melaporkan bahwa Israel sedang manantikan balasan Iran, dan bagian komando utara staf angkatan bersenjata dan Kementerian Pertahanan Israel terus memantau dan menganalisis dengan seksama semua informasi yang masuk dari badan-badan keamanan.

YA menuliskan, “Keberadaan bom benar-benar terasa, tapi tak seorangpun mengetahui kapan dan di mana akan meledak. Selagi bom belum meledak maka status siaga dan suasana kritis akan terus berlanjut di front utara.”

Beberapa media Israel menyebutkan bahwa para petinggi Israel kuatir terhadap kemungkinan terjadinya serangan terhadap instalasi-instalasi migas. Karena itu mereka mengerahkan kapal-kapal peluncur roket di sekitar instalasi-instalasi tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*