Damaskus, LiputanIslam.com –  Pangkalan-pangkalan militer Suriah, Selasa (10/4/2018), berada dalam kondisi siaga menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk segera menggunakan opsi militer terhadap Suriah.

Menyusul tuduhan bahwa tentara Suriah menggunakan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur, provinsi Damaskus, Suriah, dalam beberapa hari terakhir ini negara-negara Barat mengancam akan “bereaksi keras”.

Trump menyatakan akan ada keputusan penting “dalam waktu yang sangat dekat”. Sedangkan Perancis mengaku juga akan bereaksi jika Damaskus memang melanggar “garis merah”. Di pihak lain, Rusia menepis tuduhan itu dan mengingatkan “bahayanya”.

Obervatorium Suriah untuk HAM (SOHR) melaporkan bahwa tentara Suriah dan sekutunya sejak Senin lalu telah bersiaga untuk menghadapi kemungkinan serangan negara-negara Barat.

Direktur Eksekutif SOHR Rami Abdulrahman mengatakan bahwa sejak pertengahan malam tentara Suriah mengumumkan kondisi siaga 72 jam di semua satuan pasukan, bandara, dan pangkalannya di seluruh kawasan yang dikuasai pasukan Suriah, termasuk Damaskus.

“Kondisi demikian tidak akan terjadi kecuali sebagai reaksi atas ancaman dari luar.  Di sana terjadi pengadaan kubu-kubu dan pelatihan penyebaran pasukan secara cepat,” katanya.

Suriah berulangkali dituduh menggunakan senjata kimia sejak selama krisis yang berlangsung sejak 2011, namun Suriah selalu menepisnya.

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan, Selasa, Dubes Suriah untuk PBB Bashar Jaafari mengatakan bahwa “tuduhan palsu” itu bertujuan “mengkondisikan agresi terhadap Suriah seperti agresi jahat yang pernah dilakukan AS dan Inggris terhadap Irak pada tahun 2003.” (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*