AlQuds, LiputanIslam.com –   Sudah sebulan lalu jet tempur F-16 milik Israel rontok diterjang rudal Suriah, dan sampai sekarang rezim Zionis penjajah Palestina itu tak berani mengulangi serangan udaranya ke Suriah.

Israel sejak Minggu (5/3/2018) menggelar latihan perang besar-besaran bersama negara asing, sesuatu yang tak biasa dilakukan Israel. Manuver ini akan berlanjut sampai beberapa hari bersama pasukan Amerika Serikat (AS) di tengah suasana penuh teka-teki yang membayangi kawasan Timteng pasca tertembak jatuhnya F-16 Israel.

Israel selama ini tergolong negara yang biasa menggelar latihan perang sendiri tanpa melibatkan negara lain untuk mengasah kesiapannya menghadapi negara-negara jirannya maupun dari dalam wilayah pendudukan Palestina sendiri.

Sekarang keadaan berubah. Sebelumnya Israel hanya kuatir terhadap negara jirannya seperti Suriah dan Mesir, kendati Tel Aviv optimis Mesir berkompromi dengan Israel.  Tapi sekarang Israel serius berhadapan bukan hanya dengan Hizbullah yang terbukti tangguh, melainkan juga dengan Iran yang bukan jirannya, sebab Iran kini eksis di Suriah.

Latihan perang Israel sekarang menggambarkan lima skenario yang mencakup skala minimal, menengah, dan maksimal. Skala maksimalnya ialah kemungkinan terjadinya serangan rudal klasik yang menggunakan zat kimia dan biologi. Sedangkan pada skala menengahnya berkisar pada perang gerilya dan perang klasik.

Latihan perang Israel memang sudah direncanakan sejak jauh hari sebelumnya, namun mengalami perubahan muatan setelah jet tempurnya tertembak jatuh sistem pertahanan udara oleh Suriah. Israel mengangkat skenario adanya hujan rudal dari berbagai wilayah perbatasannya sehingga berlatih di semua wilayah itu dan memperpelajari mekanisme reaksinya. Karena itu, latihan ini lebih bernuansa defensif daripada ofensif, tak seperti sebelumnya yang mengedepankan klaim atau sumbar “mendidik lawan dengan hukum internasional.”

Pelibatan AS dalam latihan perang kali ini mengindikasikan krusialitas perkembangan situasi saat ini, yaitu terbukanya adanya potensi serangan tak terduga terhadap Israel.

Skenario lain ialah kemungkinan Israel melancarkan serangan lagi terhadap pasukan Suriah, Iran, dan Hizbullah di wilayah Suriah lalu dibalas dengan ribuan ribuan rudal sehingga berkobarlah perang di perbatasan dan di dalam Israel. Dalam kondisi demikian posisi Israel akan lemah di mata hukum internasional karena menyerang negara lain.

Dalam manuver kali ini Israel mengasah kemampuan tempurnya, menyingkap berbagai titik kekuatan dan kelemahannya, dan menyiapkan mekanisme koordinasi antarsatuan pasukannya.

Sejauh ini Israel belum mengulangi serangan udara ke Suriah sejak jet tempur F-16 tertembak jatuh, dan ini tentunya terkait dengan kekuatirannya bahwa serangan itu akan disusul serangan balasan sehingga beresiko mengobarkan perang besar, sebagaimana ia kuatir terhadap kemungkinan jet tempurnya akan mengalami nasib yang sama.

Tersiar kabar bahwa Kemhan AS, Pentagon, mengimbau Israel tidak menggunakan jet tempur F-35 dalam serangan ke Suriah karena juga tak luput dari resiko tertembak jatuh dan lalu mitos mengenai kedahsyatan jet tempur supercanggih ini akan berakhir.

Tersiar pula kabar bahwa Israel menduga Iran memanfaatkan kekuatiran dan ketidak beranian Israel mengulangi serangan udara ke Suriah. Israel menduga Iran mulai mengirim perlengkapan perang mutakhir kepada pasukan Hizbullah yang tersebar di Lebanon dan Suriah, atau mengirim persenjata yang belum pernah dilakukan Iran kepada sekutunya itu selama beberapa tahun terakhir. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*