serangan udara rusia di suriahBeirut, LiputanIslam.com – Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) Selasa kemarin (20/10) melaporkan sebanyak 243 “pemberontak” tewas terkena serangan udara Rusia terhadap pangkalan-pangkalan teroris di Suriah yang dilancarkan sejak 30 September lalu.

Sebagaimana dilansir AFP, SOHR menyebutkan bahwa dari jumlah itu sedikitnya 52 orang adalah anggota kelompok teroris takfiri ISIS.

Direktur SOHR Rami Abdul Rahman mengatakan bahwa selain ratusan kawanan bersenjata itu juga terdapat para korban korban sipil, termasuk puluhan perempuan dan anak kecil.

Dilaporkan pula bahwa sejak Rusia memulai serangan udaranya, pasukan Suriah dan Hizbullah melancarkan serangan darat secara masif di wilayah utara, tengah dan selatan, termasuk daerah pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah, hingga berhasil merebut area-area yang sebelumnya dikuasai oleh kawanan bersenjata.

Rusia mengguncang Suriah dengan serangan anti-teroris, terutama ISIS, melalui koordinasi dengan pemerintah Suriah. Rusia terus menebar bom dari angkasa ke posisi-posisi kawanan bersenjata meskipun mendapat kecaman dari AS dan negara-negara Arab sekutunya yang sejak awal memang menjadi suporter pemberontak maupuun kawanan teroris di Suriah.

Hampir semua provinsi tak luput dari serangan udara Rusia, termasuk provinsi Raqqa yang menjadi basis ISIS di negara ini.
Suriah dilanda pemberontakan dan perang Saudara sejak 2011. Kekacauan situasi di negara ini lantas dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris untuk ikut eksis di Suriah dan berlomba menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Karena sasarannya adalah al-Assad yang notabene musuh Israel dan bersekutu dengan Iran, tak pelak Barat dan beberapa negara Arab sekutunya juga berlomba menyokong dan mendanai kelompok-kelompok pemberontak maupun ekstrimis teroris semisal ISIS dan cabang al-Qaeda, Front al-Nusra.

Dikeroyok sedemikian rupa, pemerintah al-Assad semula terdesak hebat, namun menguat lagi setelah milisi Hizbullah Lebanon yang juga bersekutu dengan Iran turun tangan melawan pemberontakan dan terorisme. Kini posisi pemerintahan al-Assad semakin berada di atas angin setelah Rusia juga turun tangan melawan terorisme dan tak menggubris teriakan Barat dan negara-negara Arab sekutunya.

Presiden Rusia Vladimir Putin Selasa kemarin menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pasukan udaranya di Suriah adalah serangan pre-emptive.

Rusia memastikan kawanan bersenjata di Suriah terus melemah karena tak kurang dari 600 posisi mereka sudah hancur dibombardir angkatan udara Rusia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL