Teheran, LiputanIslam.com –   Kepala Dewan Strategi Hubungan Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi menegaskan negaranya siap menghadapi skenario terburuk dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) terkait dengan perjanjian nuklir Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman yang mewakili Uni Eropa. Dia juga mengecam keras sikap Eropa terhadap krisis Suriah, menyebut ISIS sebagai produk negara-negara musuh Suriah, menilai krisis Qatar sebagai cara Saudi untuk cuci tangan dalam krisis Suriah. dan memperkirakan ISIS masih akan bertahan dan menyebar ke pelbagai penjuru dunia.

“Ada skenario terburuk mengenai masa depan, yaitu keluarnya semua pihak dari perjanjian ini, dan kami siap menghadapi semua skenario yang ada, bahkan skenario yang paling buruk,” ungkap Kharrazi dalam pertemuan dengan mantan menlu Australia Gareth Evans dan rombongannya di kantor dewan tersebut di Teheran, Selasa (12/9/2017).

Kharrazi yang juga mantan menlu Iran berharap Uni Eropa (UE) dapat bersikap independen dan resisten di depan tekanan AS.

Dia memastikan Iran berbeda dengan Korut sehingga tidak akan berusaha mengusai senjata nuklir karena kepemilikan senjata pemusnah massal ini sudah dinyatakan terlarang dan haram dalam fatwa Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang juga merupakan sosok marja’ atau ulama panutan.

“Kami hanya ingin meraih teknologi nuklir tujuan damai… Filosofi kekuatan di Republik Islam Iran berbeda, dan pengaruh yang kami miliki di kawasan tidak bertumpu pada kekuatan dan senjata,” ujarnya.

Mengenai krisis Suriah dia mengatakan, “Esensi krisis Suriah sudah berubah, dan rasa percaya diri pemerintah Suriah untuk memasuki perundingan politik sudah meningkat menyusul kemenangannya belakangan ini.”

Dia lantas mengritik sikap negara-negara Eropa terhadap Suriah selama ini dan menyebutnya sebagai kesalahan yang fatal.

“Pertanyaan utamanya ialah mengapa sedemikian keliru dalam masalah Suriah. Eropa salah karena tak dapat menangkap bahaya ISIS.  Ada negara-negara tertentu yang mendanai dan mempersenjatai para pemberontak dan membekali para teroris. Eropa salah perhitungan, sedangkan kami sejak awal sudah tepat mengidentifikasi nasib campur tangan asing di Suriah, dan kami tidak melakukan kesalahan yang mereka perbuat,” katanya.

Menurutnya, krisis hubungan Qatar dengan Arab Saudi mengindikasikan perselisihan keduanya dalam isu Suriah.

“Saudi ingin mengesankan dirinya tak berdosa, padahal Saudilah biang kerok krisis ini karena telah menebar idologi takfiri Wahabi dan menyulut krisis ini dengan mengirim dan senjata,” katanya.

Kharrazi menambahkan bahwa ISIS ada karena ada dukungan dari negara-negara yang berambisi menggulingkan pemerintah Suriah melalui aksi militer sebagaimana terjadi di Libya, sementara Iran dan Rusia tetap akan bertahan di Suriah selagi ada permintaan dari pemerintah Damaskus.

Mengenai masa depan ISIS, dia memperkirakan organisasi teroris ini masih akan tetap bertahan meskipun dengan skala terbatas.

“Kami memperkirakan ISIS tidak akan musnah seketika, melainkan masih akan mengubah strategi, masih akan melancarkan aksi-aksi teror bersama kelompok-kelompok kecil, dan menyebar ke Eropa, Asia, Asia Tengah, Afrika utara, dan berbagai titik kawasan lain,” katanya.

Di pihak lain, Gareth Evans menyatakan Australia akan selalu konsisten pada perjanjian sehingga Negeri Kanguru ini kecewa atas sikap Presiden AS Donald Trump terhadap perjanjian nuklir Iran, dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam hubungan Canberra dengan Washington. (mm/irna/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL