rusia vitaly churkinNewYork, LiputanIslam.com – Wakil Tetap Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Vitaly Churkin menyatakan bahwa gencatan senjata 48 jam atau dua hari dapat diterapkan di Aleppo dengan syarat perbatasan Turki-Suriah dikontrol secara ketat demi mencegah penyusupan para teroris dan penyelundupan senjata dari wilayah Turki ke wilayah Suriah.

“Penghentian perang di Aleppo demi penyaluran bantuan kemanusiaan kepada penduduk kota ini jangan sampai menjadi kesempatan bagi para teroris untuk menyuplai senjata dan memperbarui kekuatan… Harus ada manajemen yang memadai, termasuk untuk mengontrol barang-barang muatan di perbatasan Turki-Suriah, ” ungkapnya, Senin (22/8/2016) sebagaimana dikutip TASS milik Rusia .

Menurut Churkin, dewasa ini PBB sedang terlibat dalam proses pembuatan aturan gencatan senjata.

Sejak sekitar 10 hari lalu Rusia setiap hari menerapkan gencatan senjata mulai pukul 10.00 hingga 13.00 waktu setempat agar penduduk dapat meninggalkan lokasi pertempuran melalui tujuh jalur aman dan supaya para teroris dapat menyerahkan diri kepada pasukan pemerintah Suriah dari satu jalur khusus.

Tanpa menyebutkan waktu secara rinci, Jubir Kemhan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa pekan depan akan diterapkan gencatan senjata selama dua hari demi penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk bahan makanan dan obat-obatan serta layanan kesehatan kepada penduduk Aleppo.

Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara lain yang memusuhi pemerintah Suriah dan mendukung militan pemberontak dan teroris di Suriah belakangan ini gencar meneriakkan isu kemanusiaan di Aleppo sejak pasukan pemberontak dan teroris di kota ini terdesak dan terkepung oleh pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya. Pemerintah Suriah dan sekutunya praktis menganggap teriakan itu sebagai akal-akalan belaka untuk menyelamatkan militan.

Belakangan ini kampanye anti operasi militer Suriah di Aleppo dilakukan secara masif oleh media Barat antara lain dengan menyebar video dan foto korban luka bocah Aleppo bernama Omran Daqneesh yang duduk di kursi oranye. suriah omran daqneesh

Dalam video dan foto yang tersebar luas di medsos itu terlihat bocah tersebut duduk terpaku bermandikan debu di kursi ambulan, dan pipinya bersimbah darah yang mengucur di kepala sebagai korban serangan udara menghantam rumahnya di Aleppo. Foto yang ternyata dibuat oleh anggota teroris yang menyamar sebagai relawan itu didramatisir sedemikian rupa hingga menjadi ikon pergerakan berskala dunia untuk menekan pemerintah Suriah. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL