Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, dalam pidatonya pada peringatan Hari Pejuang Resistensi Yang Terluka, Rabu (10/4/2019),  menyebut Amerika Serikat (AS) sebagai biang kerok terorisme.

“AS bukan penyokong terorisme, pemerintahAS adalah teroris itu sendiri. Pikiran dan tindakannya adalah terorisme, dan kita berdiri menghadang terorisme yang salah satu manifestasi terbesarnya ialah mulai dari genosida di Hiroshima hingga (aneka peristiwa) sekarang,” ujar pemimpin kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon tersebut ketika menyinggung keputusan AS memasukkan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam daftar organisasi teroris.

Dia menjelaskan, “AS menghina sebuah bangsa secara total hanya demi Israel, dan menciptakan kelompok-kelompok teroris dan membekali mereka dengan segala fasilitas, tapi kemudian malah memasukkan para pejuang pembela tanah air, kesucian dan martabat dalam daftar teroris. Ini merupakan puncak kebodohan dan kekonyolan. Sekarang kita menyaksikan dengan baik puncak kekonyolan AS, yang mencantumkan IRGC dalam daftar teroris.”

Nasrallah menambahkan, “IRGC adalah organisasi jihadis yang hebat, dan tentu saja ketika keputusan (AS) ini diambil maka semua orang terhormat di dunia memiliki sensiblitas tersendiri. Kami mengutuk keputusan ini, mendukung saudara-saudara dan orang-orang yang kami cintai, serta mengakui kebesaran mereka dalam membela Islam, umat, kesucian dan bangsa-bangsa regional. Bukan hanya bangsa Iran sendiri, melainkan bangsa-bangsa regional dan kesucian mereka.”

Sekjen Hizbullah menyatakan, “Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bersama mereka (IRGC)… Kami tidak merasa lemah. Dimasukkannya kami dalam daftar teroris justru menunjukkan bahwa kami kuat. Seandainya kami lemah dan tak sanggup menghadapi rencana-rencana mereka maka tidak mungkin mereka hendak mengendalikan kami. Apa yang terjadi ini adalah sesuatu yang wajar. Kita harus memandangnya biasa. Sekarang mereka menempuh langkah yang belum pernah ditempuh sebelumnya dengan memasukkan IRGC dalam daftar teroris, sebab IRGC berada di posisi sentral, terkuat, terpenting, dan paling berpengaruh, dan ini mencerminkan frustasi Presiden AS Donal Trump dan para pejabat AS lainnya.”

Kemudian, ditujukan “kepada semua orang yang mengandalkan tindakan AS,” Nasrallah menegaskan, “Memang, di depan daftar teroris itu kami sampai sekarang masih sebatas mengecam, mengutuk, bersabar, dan fokus pada pengelolaan situasi. Tapi ini bukan berarti bahwa kami tidak memiliki kartu-kartu penting dan prinsipal. Saya berbicara tidak hanya soal Hizbullah, melainkan tentang Poros Resistensi. Kami memiliki banyak unsur kekuatan. Tapi ini bukanlah kebijakan yang permanen. Ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh AS lalu ada yang mengatakan bahwa tindakan itu tetap tidak akan mendapat reaksi. Kalian keliru, ketika setiap bagian dari Poros Resistensi merasa ada situasi yang mengancam bangsa kami dan persoalan prinsipal kami. Siapa yang mengatakan bahwa kami hanya akan sebatas mengecam?”

Sekjen Hizbullah menambahkan, “Sudah menjadi kewajiban moral kami untuk melawan semua orang yang tindakannya dapat mengancam bangsa, negara, dan resistensi kami. Tapi tentu, tangan kami terbuka dan opsi-opsi kami terbuka, namun pada saatnya yang tepat, yaitu manakala ada tindakan yang memang perlu mendapat balasan yang setimpal.” (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*