NewYork, LiputanIslam.com –  Kerajaan Arab Saudi sekarang berada di fase terburuk. Untuk pertama kalinya selama beberapa dekade, Saudi menghadapi ancaman internal dan mengalami krisis kepemimpinan menyusul penobatan Mohammad Bin Salman sebagai putera mahkota baru. Namun, perkembangan ini tidaklah mengejutkan bagi Iran.

Hal ini dikatakan oleh seorang pejabat tinggi Iran yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada al-Monitor yang berbasis di Amerika Serikat (AS), seperti dilansir Sputnik, Rabu (12/7/2017).

“Kami semua mengetahui bahwa ini terjadi,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu Raja Salman Bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mencopot Mohammad Bin Nayef dari kedudukannya sebagai putera mahkota dan kemudian menggantinya dengan Mohammad Bin Salman yang merupakan putera Raja Salman sendiri.

Sebelum peristiwa ini terjadi, jenderal termasyhur Iran Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang bernaung di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dalam pidatonya pada sebuah pertemuan di Teheran mengatakan, “Mohammad Bin Salman, Wakil Putera Mahkota (Saudi) terburu-buru dalam urusannya, ingin menyingkirkan Putera Mahkota Mohammad Bin Nayef, dan bisa jadi dia juga akan membunuh bapaknya untuk menggantikannya.”

Soleimani kemudian menceritakan adanya percakapan antara Bin Salman dan seorang pejabat tinggi Suriah di Rusia pada tahun 2016. Soleimani mengutip keterangan dari pihak Suriah bahwa Bin Salman telah menyampaikan pesan tegur sapa ayahnya mengenai kondisi Presiden Suriah Bashar al-Assad dan keluarganya.

Menurut Soleimani, pejabat Suriah itu berkata, “Ketika Saya melihat cuaca cerah, saya mengatakan bahwa ISIS merupakan ancaman bagi kita semua, maka marilah kita bersama-sama memeranginya.” Bin Salman kemudian menjawab, “Ini (ISIS) bukan apa-apa, kita dapat menghabisi ISIS dan Jabhat al-Nusra hanya dalam tempo satu hari saja. Jangan risaukan ini. Masalah Anda Cuma satu, yaitu adanya hubungan dengan Iran. Jika Anda menyudahi hubungan ini dan bersikap anti kepadanya maka semua persoalan itu akan berakhir.”

Al-Monitor menyebutkan bahwa pandangan Bin Salman bahwa Iran merupakan biang problematika Timteng ini praktis mengundang keprihatinan Iran.

Seorang pejabat Iran lain yang anonim mengatakan, “Kerajaan Arab Saudi sekarang berada di salah satu fase terburuknya.  Untuk pertama kalinya selama beberapa dekade Saudi menghadapi ancaman dari dalam dan mengalami krisis kepemimpinan….  Demikian kondisinya dengan adanya putera mahkota baru.”

Dia menambahkan, “Bagi interes langsung bagi Iran semua yang dilakukan Bin Salman bisa jadi akan berdampak positif, mengacu pada petualangan terbaru terhadap Qatar. Negara-negara Teluk terancam bahaya akibat pemaksaan pendapatnya kepada jirannya, dan apa (yang akan terjadi) setelahnya?”

Pejabat Iran itu mengatakan bahwa kebijakan Mohammad Bin Salman sepenuhnya bermusuhan terhadap Iran.  (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL