isis anbarBaghdad, LiputanIslam.com –  Komisi Keamanan dan Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Irak menyatakan bahwa operasi militer besar-besaran, termasuk dengan melibatkan pasukan udara, akan segera dimulai untuk menyingkirkan kawanan teroris ISIS di provinsi Anbar di bagian barat Irak. Demikian dilaporkan Alalam, Minggu (17/5).

Dalam beberapa hari terakhir terjadi pertempuran sengit antara pasukan gabungan Irak dan pasukan ISIS di kota Ramadi, ibu kota provinsi Anbar, mengakibatkan 63 teroris tewas dan beberapa peralatan tempur mereka hancur. Sumber keamanan menyatakan pasukan Irak berhasil membebaskan pabrik semen al-Karmah di bagian timur Anbar.

Sumber itu menambahkan bahwa pemerintah Irak telah mengirim pasukan bantuan dalam jumlah besar ke Anbar, sementara suku-suku dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Anbar secara resmi telah meminta relawan al-Hasyd al-Sakbi ikut berpartisipasi dalam perang melawan ISIS.

Laporan lain dari IRNA menyebutkan bahwa DPRD Anbar telah menyelenggarakan sidang darurat di Baghdad menyusul gentingnya situasi di Ramadi.

Pasukan gabungan Irak juga dilaporkan telah membebaskan dua desa strategis di selatan kota Samarra dan al-Buaiji di distrik Baiji, provinsi Salahuddin, serta terus melakukan operasi penyisiran teroris di sekitar kilang minyak Baiji hingga memaksa ISIS menjauh dari kawasan minyak tersebut.

Sebuah sumber menyatakan bahwa dewan ini secara resmi telah menyerahkan surat permohonan kepada Perdana Menteri Irak Haider Abadi selaku komandan tertinggi Angkatan Bersenjata Irak supaya al-Hasyd al-Sakbi disertakan dalam perang di Anbar.

“Tak jelas mengapa sebagian orang bersikukuh supaya al-Hasyd al-Sakbi tidak dilibatkan dalam perang melawan ISIS di provinsi ini, dan entah apa yang mereka khawatirkan?” ujar sumber itu.

Dia menambahkan, “Dengan adanya keputusan DPRD Anbar soal ini terlihat bahwa hanya sekelompok kecil politisi yang menolak keterlibatan pasukan rakyat dalam perang Anbar.”

ISIS memulai upayanya untuk merebut Ramadi sejak dua pekan lalu. Hal ini mengakibatkan penduduk setempat sekira 140 kepala rumah tangga terpaksa berbondong-bondong mengungsi menuju Baghdad, ibu kota Irak, dan berbagai kota lain di bagian tengah dan selatan Irak.

Sejak Kamis lalu (14/5) serangan ISIS terhadap Ramadi meningkat hingga dapat menguasai beberapa bangunan penting serta mengepung beberapa pasukan keamanan Irak, namun pasukan pertahanan kota masih terus melakukan perlawanan.

Menurut IRNA, meskipun berbagai sumber militer dan resmi Irak menyatakan telah mengirim pasukan bantuan disertai perlengkapan perang ke Anbar untuk membantu pasukan yang bertahan di sana, namun sejauh ini kemungkinan jatuhnya kota itu ke tangan ISIS masih belum teratasi.

Kekhawatiran terhadap jatuhnya Ramadi ke tangan ISIS sudah dinyatakan para komandan al-Hasyd al-Sakbi, termasuk Qais al-Haz Ali, Sekjen Brigade Ahl al-Haqq,  sejak jauh jauh hari sebelumnya.

“Sudah lama Perdana Menteri diperingatkan soal ini, dan sekarang ada kekhawatiran terhadap kemungkinan jatuhnya Ramadi,” katanya, Minggu kemarin.

Banyak kalangan menyatakan al-Hasyd al-Sakbi harus dilibatkan karena relawan ini terbukti sangat terlatih dalam pertempuran, termasuk dalam perang kota, sebagaimana terlihat dari apa yang mereka lakukan dan serangan-serangan telak mereka terhadap ISIS di provinsi Diyala, Babl dan Salahuddin . Para komandan relawan ini juga mengaku pessimis tentara Irak akan dapat memberikan pukulan telak terhadap ISIS tanpa bantuan relawan tersebut.

Juru bicara al-Hasyd al-Sakbi Karim al-Nouri mengatakan bahwa perang di Ramadi lebih mudah bagi relawan ini dibanding perang di Salahuddin. Dia bahkan memastikan bahwa kawasan yang luas justru membuat ISIS menjadi “buruan yang mudah”.

“Perang di Ramadi lebih kecil tingkat kesulitannya dibanding Salahuddin, karena area yang luas akan membuat ISIS menjadi buruan yang mudah bagi serangan angkatan bersenjata… Kami akan menentukan strategi yang memadai untuk situasi pertempuran yang akan datang, karena strategi ISIS sudah terkenal dan terungkap di depan kami,” katanya, sebagaimana dilansir al-Sumaria News.

Dia menambahkan, “Kami adalah para ksatria medan laga, dan kami akan mengejar para anggota ISIS sebagaimana sebagian orang berdatangan kepada mereka… Perang akan tuntas dalam waktu yang sangat dekat.”

Banyak pula kalangan di Irak yang berkeyakinan bahwa Amerika Serikat (AS) berada di balik memburuknya keadaan di Anbar, karena AS menjadi andalan pihak-pihak yang menentang keterlibatan al-Hasyd al-Sakbi dalam perang di Anbar. Karena itu, hal yang dinantikan sekarang ialah bagaimana keputusan Perdana Menteri Abadi terkait desakan supaya relawan itu dilibatkan. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL