Tillerson dan Mohamad Bin Salman

Riyadh, LiputanIslam.com – Gelombang aksi penangkapan para tokoh saingan Putera Mahkota Mohammad Bin Salman (MBS) di Arab Saudi dengan dalih pemberantasan korupsi belakangan ini mengundang keresahan Amerika Serikat (AS), padahal jauh hari sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengaku mendukung penuh aksi itu.

Sebanyak lebih dari 200 orang telah dicokok pada 4 November lalu setelah Raja Salman Bin Abdulaziz menginstruksikan pembentukan komisi pemberantasan korupsi yang dipimpin oleh puteranya sendiri, MBS. Mereka yang ditangkap terdiri atas para pangeran, menteri, mantan pejabat, dan konglomerat.

Menlu AS Rex Tillerson, Jumat (10/11/2017), mengatakan bahwa gelombang penangkapan dan penahanan dengan skala dan level yang tak pernah terjadi sebelumnya di Saudi itu menimbulkan kekuatiran.

“Saya sudah berbincang dengan Menlu Saudi Adel Al-Jubeir untuk mendapat penjelasan, dan saya kira – berdasarkan perbincangan ini – ada iktikad baik,” katanya di atas pesawat dalam perjalanan dari Beijing menuju Vietnam.

Dia mengatakan, “Ini adalah pemahaman saya bahwa mereka mencirikan hal ini karena tidak benar-benar menangkap pada saat ini, namun mereka menunjukkan bukti dari apa yang mereka anggap kesalahan adalah jika ada kemauan untuk membuat sesuatu menjadi benar.”

Dia menambahkan, “Pandangan saya sendiri ialah bahwa hal itu terjadi, ini menimbulkan beberapa masalah sampai kita melihat dengan lebih jelas bagaimana individu-individu tertentu ini ditangani.”

Senin lalu Presiden AS Donald Trump mengaku “sangat percaya” terkait aksi penangkapan itu.  Di Twitter dia juga mengatakan bahwa Raja Salman dan MBS “mengetahui sepenuhnya apa yang harus mereka lakukan” dan bahwa “orang-orang yang diperlakukan dengan keras itu adalah orang-orang yang telah menelan kekayaan negara selama bertahun-tahun.”  (mm/afp/reuters)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL