Gaza, LiputanIslam.com –  Faksi-faksi pejuang Palestina dalam sebuah konferensi tingkat nasional yang di selenggarakan di Gaza, Kamis (13/9/2018), menyatakan penolakannya terhadap Perjanjian Oslo yang sudah berusia 25 tahun.

Mohammad al-Hindi, tokoh gerakan Jihad Islam Palestina, dalam konferensi ini menegaskan, “Perunding Palestina telah membayar harga penuh akibat perjanjian ini dan menangguhkan urusan-urusan primer demi memuaskan musuh. 80% wilayah Palestina telah menjadi Israel dengan tandatangan perunding Palestina, dan sisanyapun juga di tangan Israel melalui pemaksaannya untuk kebijakan politik kongkret terhadap orang-orang Palestina.”

Al-Hindi menyerukan pembatalan Perjanjian Oslo, penghentian perpecahan, rekonstruksi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan menegaskan bahwa tahapan yang ada sekarang masih berkutat pada upaya pembebasan nasional bersama keharusan peluncuran dialog nasional secara menyeluruh dan mencakup semua faksi.

Dia juga menyebut Gaza sebagai formula resistensi dan penolakan terhadap segala perjanjian yang menistakan bangsa Palestina.

Penolakan yang sama dalam konferensi itu juga ditegaskan oleh tokoh Front Rakyat Pembebasan Palestina (PLFP), Hani al-Thawabteh, sembari menyerukan pembangunan strategi baru untuk melawan Perjanjian Oslo.

Dia menilai Perjanjian Oslo diteken “di belakang punggung rakyat”, dan “orang yang meneken perjanjian ini mengemban tanggungjawab nasional dan historis.” Karena itu, dia menyerukan kampanye nasional untuk pemboikotan Israel dan pencabutan Perjanjian Oslo. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*