rusia konstantin Kosachev

Konstantin Kosachev

Moskow, LiputanIslam.com –   Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Federasi Rusia  Konstantin Kosachev menyatakan bahwa Turki sekarang  menyadari kesalahan obsesinya selama ini untuk berperan sebagai pemimpin di kawasan sekitarnya.

Sebagaimana dilansir IRNA, saat berbicara mengenai cakrawala kebijakan luar negeri baru Ankara, Kosachev dalam wawancara dengan harian Rusia Izvestia, Senin (25/7/2016), mengatakan, “Sedang terjadi perubahan mendasar di pentas politik dalam dan luar negeri Turki, dan akan ditempuh langkah-lengkah penting untuk normalisasi hubungannya dengan Rusia. Dalam rangka ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memberikan jaminan-jaminan tertentu bahwa kebijakan Ankara mengenai Moskow (di era baru) tidak akan berubah.”

Tanpa menjelaskan jaminan yang mungkin telah dikemukakan beberapa waktu lalu dalam surat permohonan maaf Erdogan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atau dalam percakapan telefon keduanya, Kosachev berharap semua persoalan yang dipertimbangkan Rusia mengenai Turki dapat terselesaikan dalam pertemuan bulan depan antara Putin dan Erdogan di salah satu kota di Rusia.

Mengenai kesadaran Angkara atas kesalahan obsesinya selama ini, Kosachev mengatakan, “Turki sekarang menyadari realitas bahwa kebijakan-kebijakannya selama ini untuk menjadi pemimpin di kawasan tidaklah tepat sehingga hubungannya keruh dengan semua negara jirannya. Kekeruhan hubungan ini bahkan juga merambat ke hubungannya dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun demikian, sekarang ada optimisme ketika Turki siap memperbaiki hubungannya dengan Rusia. Tapi kami heran melihat Turki tidak menjalin hubungan yang wajar dengan para sekutu strategis Baratnya.”

Dia menambahkan, “Langkah-langkah Turki belakangan ini untuk normalisasi hubungan merupakan kesempatan yang baik, tapi tak ada jaminan bahwa kebijakan dalam dan luar negeri Ankara tidak akan berbalik arah, dan kemungkinan ini menandakan bahwa Moskow dan Ankara akan melakukan perundingan serius.”

Mengenai kemungkinan adanya aliansi politik Moskow-Ankara dalam berbagai isu, Kosachev mengakui posisi penting Turki di kancah regional dan internasional, dan mengatakan, “Kerjasama dalam bentuk aliansi berkemungkinan apabila kedua pihak bersedia mengutamakan kepentingan kolektif atas kepentingan sepihak. Jika Ankara siap maka Moskow juga siap di bidang ini.”

Di bagian dia menjelaskan bahwa Turki dan Rusia sebenarnya sependapat dalam banyak hal, termasuk dalam menolak sistem global monopolar, tapi keduanya bertolak belakang dalam menyikapi Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO.

Hubungan Turki dengan Rusia meradang sejak insiden penembak jatuhan pesawat tempur Su-24 milik Rusia oleh Angkatan Udara Turki di angkasa perbatasan Turki-Suriah pada 24 November tahun lalu.  Buntut kejadian ini, Rusia memboikot ekonomi Turki dan menolak mentah-mentah keinginan Erdogan untuk menormalisasi hubungan sebelum Ankara menyampaikan permohonan maaf secara resmi dengan segala konsekuensinya kepada Moskow atas insiden tersebut.

Setelah sekian lama keberatan, Ankara akhirnya memenuhi syarat tersebut melalui surat Erdogan kepada Putin.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL