Washington, LiputanIslam.com –  Senator Demokrat dari  Connecticut, Amerika Serikat (AS), Chris Murphy, menyatakan bahwa Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton berusaha menciptakan kondisi untuk mengobarkan perang terhadap Iran.

Dalam video yang diposting di halaman Twitter resmi Gedung Putih, Senin (11/2/2019), Bolton menebar pernyataan hoax dan klaim Trump yang sudah berulangkali dibantah bahwa Iran berusaha meraih senjata nuklir, dan menggambarkan pemerintah Iran sebagai “bank sentral terorisme internasional.”

Menanggapi video Bolton, Senator Chris Murphy memperingatkan dalam sebuah cuitannya di Twitter,  Selasa (12/2/2019), bahwa penasihat keamanan nasional hawkish Trump secara sadar membangun momentum untuk serangan militer AS terhadap Iran.

“Di sini Bolton mengatakan Iran sedang mencari senjata nuklir. Ini tidak benar. Intelijen mengatakan sebaliknya dan dia tahu itu. Dia meletakkan dasar untuk perang dan kita semua harus waspada,” tulis Murphy.

Pernyataan Bolton bahwa Iran sedang mengejar senjata nuklir bertentangan dengan temuan-temuan  Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan para pejabat senior intelijen pemerintahan Trump sendiri yang bulan lalu menyimpulkan bahwa “Iran saat ini tidak berada dalam kegiatan kunci pengembangan senjata nuklir yang kita nilai diperlukan untuk menghasilkan perangkat nuklir.”

Senada dengan Murphy, direktur kebijakan di Dewan Nasional Iran-AS Ryan Costello mengatakan, “Klaim John Bolton bahwa ‘Iran terus mencari senjata nuklir’ adalah kebohongan lain yang jelas. Dia jelas menginginkan perang sebelum Trump meninggalkan kantor, dan  ini tidak boleh diremehkan.”

Pada tahun lalu, Bolton mendesak Pentagon agar memberikan “opsi militer” kepada Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Pentagon kemudian dilaporkan mengeluhkan permintaan Bolton, tapi tak jelas apakah informasi mengenai desakan itu diketahui Trump.

Sementara itu, membalik klaim Gedung Putih bahwa revolusi Iran telah menghasilkan “kegagalan 40 tahun,” Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Iran di halaman Twitternya, Senin, menyatakan, “Setelah 40 tahun pilihan yang salah, (sekarang) saatnya Donald Trump memikirkan kembali kebijakan AS yang gagal. ” (mm/rt/cd)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*