Washington, LiputanIslam.com – Amerika Serikat (AS), Rabu (19/12/2018), mengumumkan dimulainya penarikan pasukannya dari Suriah, setelah Presiden AS Donald Trump mengaku telah “mengalahkan” kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/DAESH).

Tanpa memberikan keterangan rinci, Kementerian Pertahanan AS Pentagon menyatakan bahwa penarikan ini merupakan transisi ke “fase selanjutnya dari operasi militer”.

Dilaporkan bahwa jumlah tentara AS yang ditempatkan di bagian timur laut Suriah sekira 2.000 orang, dan ada kekhawatiran penarikan AS dapat memperluas pengaruh Iran dan Rusia di Suriah.

Namun, Pentagon maupun Gedung Putih memastikan AS mulai “mengembalikan pasukan AS ke rumah saat kita bertransisi ke fase berikutnya dari operasi militer ini.”

Pentagon mengaku tidak akan memberikan rincian lebih lanjut mengenai apakah tahap selanjutnya adalah “untuk perlindungan pasukan dan alasan keamanan operasional”.

Gedung Putih mengatakan AS dan sekutunya “siap untuk terlibat kembali di semua level untuk membela kepentingan AS kapan pun diperlukan, dan kami akan terus bekerja sama menolak otoritas wilayah teroris radikal Islam, pendanaan, dukungan dan sarana apa pun untuk menyusup ke perbatasan kami. ”

Menanggapi hal ini, Israel mengaku telah diberitahu AS bahwa negara ini memiliki “cara lain untuk memiliki pengaruh di kawasan” tetapi akan “mempelajari garis waktu (penarikan), bagaimana itu akan dilakukan dan tentu saja implikasinya bagi kita”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyebut keputusan AS ini dapat menghasilkan “prospek nyata dan nyata untuk penyelesaian politik” di Suriah.

Presiden Trump sudah lama menjanjikan penarikan pasukan AS dari Suriah, namun pengumuman tentang penarikan bisa jadi justru  mengejutkan sebagian pejabatnya sendiri.

Pasalnya, utusan khusus presiden AS untuk koalisi global anti ISIS, Brett McGurk, pekan lalu kepada wartawan justru mengatakan, “Tidak ada yang mengatakan bahwa (ISIS) akan menghilang. Tak ada orang yang senaif itu. Jadi kami ingin tetap di lapangan dan memastikan stabilitas dapat dipertahankan di area ini. ”

Kemlu AS secara tiba-tiba membatalkan pengarahan harian, Rabu, menyusul pengumuman penarikan pasukan.

Salah satu pendukung Mr Trump, Senator Republik Lindsey Graham, yang duduk di komite layanan bersenjata, menyebutnya sebagai “kesalahan besar seperti Obama”. (mm/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*