ktt liga arab ke-25Kuwait City, LiputanIslam.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab Nabil Elaraby dalam pidato pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-25 Liga Arab di Kuwait City, Kuwait, Selasa (25/03) menyerukan kepada semua negara Arab agar  bersiaga sepenuhnya di depan bahaya terorisme, menempuh langkah-langkah efektif dan meningkatkan kerjasama antarmereka sendiri maupun dengan masyarakat dunia dalam perang melawan terorisme.

Dalam KTT bertema “Solidaritas untuk Masa Depan Lebih Baik” itu dia juga menyinggung krisis Suriah dan mengingatkan bahwa krisis ini merupakan bahaya besar yang mengancam keamanan bangsa-bangsa Arab. Dia bahkan menyebutnya sebagai kemelut terbesar di abad ke-21 bagi Arab dan ancaman kedua setelah krisis Palestina. Karena itu dia menyerukan supaya bangsa-bangsa Arab saling mendekat untuk bersama-sama mengatasi krisis Suriah.

Mengenai krisis Palestina, Sekjen Liga Arab menyebutnya sebagai tantangan pertama bagi Arab dan menilai bahwa khalayak dunia juga tidak akan dapat menikmati perdamaian jika krisis Palestina tak kunjung terselesaikan. Dia memandang pendudukan Israel terhadap Palestina sebagai sistem neo-apartheid serta mengingatkan adanya kelambanan dalam upaya pembersihan Timur Tengah dari senjata pemusnah massal, khususnya dari pihak Israel.

Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah juga memberikan pidato sambutan dalam pembukaan KTT. Dia juga menyerukan supaya negara-negara Arab merapatkan barisan. “KTT ini diselenggarakan di tengah sulitnya situasi regional dan internasional. Jadi, sangat penting bagi kita untuk bersatu dan mengkoordinasikan kebijakan kita demi kemakmuran dan keamanan regional,” ujar al-Sabah.

KTT Liga Arab ke-25 dibuka di Kuwait Senin pagi (25/03), namun dihadiri hanya oleh 13 kepala negara Arab, sedangkan delapan kepala negara Arab lainnya absen. Kepala negara yang hadir antara lain Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Mesir Adly Mansour dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al- Thani.

Pessimisme Publik Timur Tengah

Konferensi ini berlangsung ketika publik Arab terlihat pessimis terhadap hasil KTT. Penulis ternama Kuwait, Salah al-Fazli, kepada jaringan berita al-Alam Selasa (25/3) menyebutkan bahwa pesimisme kian terlihat jelas ketika Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab tidak mengirim utusan tingkat tinggi pada KTT sebagai bentuk ungkapan kegusaran mereka terhadap Kuwait yang enggan bergabung dengan mereka menarik duta besarnya dari Qatar.

Menurut al-Fazli, tidak seorangpun optimis KTT itu akan membuahkan hasil yang berarti, apalagi tidak mengagendakan secara khusus apa yang disebutnya tiga isu besar Timteng, yaitu krisis Palestina, kemelut Suriah dan perselisihan serius antarnegara Dewan Kerjasama Teluk (GCC). “Apa gunanya KTT jika tidak mau membahas tiga isu ini?!” soal al-Fazli dengan nada kecewa.

Al-Fazli menilai Kuwait berada dalam posisi terjepit karena Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab memang kecewa dan gusar terhadap keengganan Kuwait untuk ikut menarik duta besarnya dari Doha sebagai sanksi bagi dukungan Qatar kepada Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kekecewaan ini membuat Menlu Arab Saudi Saud bin Faisal bin Abdulaziz absen dari Konferensi Tingkat Menteri Liga Arab. Selanjutnya, tiga negara Arab tersebut juga tidak mengirim kepala negara masing-masing pada KTT. Uni Emirat Arab bahkan cukup mengirim kepala pemerintahan negara bagian Fujairah.

Al-Fazli mengatakan, “Kuwait yang semula diharapkan dapat mendamaikan negara-negara itu ternyata malah menjadi bagian dari pihak yang bertikai.” Karena itu, lanjutnya, KTT tidak mungkin akan mengeluarkan resolusi apapun, melainkan hanya sebatas stetemen dari negara yang menjadi tuan rumah. (mm/alalam/xinhua)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL