Kairo, LiputanIslam.com –  Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menegaskan bahwa mengusik masa depan kota Al-Quds (Yerussalem) tak ubahnya dengan “bermain api” dan tidak akan pernah diterima oleh orang Arab, baik Muslim maupun Kristen.

Dalam pertemuan para menlu Arab mengenai Al-Quds di Kairo, Kamis (1/2/2018), dia menyebut pertemuan ini “kesempatan untuk mengevaluasi lagi situasi mengenai Al-Quds”, memastikan bahwa pendirian kolektif Arab dalam masalah ini sudah jelas bagi semua orang, dan menilai sikap Eropa terhadap isu Palestina “positif dan terpuji”.

Aboul Gheit menegaskan bahwa mengusik status Al-Quds merupakan “ajakan untuk menggelincirkan kawasan kepada konflik bernuansa agama, kekerasan, dan terorisme.”

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu telah merilis keputusan Washington mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel, dan karena itu pula dia juga memutuskan pemindah Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds.

Dalam pertemuan di Kairo tersebut, Menlu pemerintahan otonomi Palestina, Riyad Al-Maliki, menyebut keputusan Trump itu “zalim dan bodoh” serta menimbulkan berbagai konsekuensi yang melanggar undang-undang internasional dan mengabaikan seperempat juta orang Palestina yang tinggal di Al-Quds.

“Al-Quds akan tetap menjadi ibu kota abadi bagi negara Palestina, dan siapapun tak dapat mengusik status dan sentralitasnya yang sah. Keputusan AS merupakan benturan besar bagi semua iktikad baik yang pernah kami harapkan dari AS untuk penyelesaian yang dapat diterima bagi konflik Arab-Israel,” terangnya.

Dia menambahkan, “Orang yang mengambil keputusan itu mengira bahwa dia dapat menyingkirkan Al-Quds dari meja perundingan. Tapi Al-Quds tetap akan menjadi ibu kota kami untuk selamanya, dan keputusan Trump telah menyudahi peranan AS dalam mendukung proses perdamaian dan merupakan keruntuhan baru dan parah bagi kejujurannya dalam berperan di tengah masyarakat internasional.”

Sebelumnya, Menlu Yordania Ayman Safadi yang memimpin pertemuan di Kairo tersebut telah menyodorkan kepada para anggota Komisi Inisiasi Perdamaian Arab ringkasan hasil pergerakan delegasi menteri Arab yang dimulai setelah pertemuan sejumlah menlu Arab dan Sekjen Liga Arab di Amman, ibu kota Yordania, pada Desember 2017 dengan tujuan melawan keputusan Trump.

Komisi Inisiasi Perdamaian Arab dipimpin oleh Yordania dan dianggotai oleh Bahrain, Tunisia, Aljazair, Arab Saudi, Sudan, Irak, Palestina, Qatar, Kuwait, Lebanon, Mesir, Maroko, dan Yaman serta Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit. (mm/alyoum7)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*