liga arab nabil elarabyKairo, LiputanIslam.com –   Sekjen Liga Arab Nabil Elaraby menilai perundingan yang sedang berlangsung untuk penyelesaian krisis Suriah mengalami kemajuan signifikan serta menumbuhkan optimisme.

“Prediksi-prediksi yang ada menunjukkan adanya kemajuan dalam perundingan yang sedang berlangsung untuk penyelesaian krisis, dan akan ada babak baru dialog antara pemerintah Suriah dan kubu oposisi di Jenewa,” kata Elaraby kepada wartawan, seperti dilansir Asharq al-Awsat, Senin (24/8).

Statemen ini mengemuka sementara pertempuran di Suriah terus berkecamuk dan sejauh ini sudah merenggut sekitar 250,000 nyawa dan menelantarkan belasan juta orang.
Pekan lalu Dewan Keamanan PBB merilis pernyataan berisikan dukungan dan apresiasi atas upaya yang sedang berlangsung untuk solusi krisis Suriah.

Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Suriah Staffan de Mistura tiga pekan lalu mengusulkan supaya para perunding bekerja dalam empat kelompok di bawah pengawasan PBB untuk mekanisme pelaksanaan prakarsa damai karena sampai sekarang mereka belum memiliki kesiapan yang cukup untuk melakukan perundingan resmi.

Dewan Keamanan mendukung upaya de Mistura untuk perundingan politik dan peralihan kekuasaan di Suriah berdasarkan resolusi Jenewa 2012 di mana negara-negara besar dunia menghendaki suksesi di Suriah, tapi tanpa menentukan bagaimana selanjutnya posisi Presiden Suriah Bashar al-Asad. Resolusi ini hanya menegaskan keharusan dibentuknya dewan pemerintahan yang melibatkan semua pihak Suriah yang bertikai.

Sementara itu, tokoh oposisi yang menjabat ketua koordinasi nasional Suriah, Hassan Abdul Azim, mengaku optimis krisis Suriah akan berakhir tahun ini.

“Rusia dan Amerika Serikat (AS) telah menekankan urgensi penyelesaian krisis Suriah paling lambat akhir tahun ini. Keseriusan dua negara ini memudahkan upaya mengatasi semua kendala,” katanya, seperti dikutip kantor berita Palestina, WAFA.

Dia menambahkan, “Kedua pihak berkeyakinan bahwa ancaman terbesar dewasa ini ialah organisasi teroris ISIS, dan bahwa maraknya kekecauan dan kekerasan merugikan semua pihak. Pada kesimpulannya, kedua negara ini menegaskan bahwa solusi politik untuk krisis ini harus dicapai.”

Krisis Suriah berkobar sejak Februari 2011 akibat pemberontakan kelompok-kelompok oposisi yang didukung oleh AS, Arab Saudi, Turki, Qatar dan Israel. Kekerasan di Suriah kemudian diperparah oleh menjamurnya kelompok-kelompok radikal dan teroris yang juga tak lepas dari peranan negara-negara yang memusuhi pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Pemerintahan al-Assad sempat terdesak hebat akibat serangan oposisi dan kawanan teroris tapi kemudian menguat lagi setelah dibantu oleh milisi Hizbullah dari Lebanon yang oleh banyak pihak dinilai sebagai perpanjangan tangan Iran. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL