Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah menegaskan bahwa kubu muqawamah (resistensi anti AS dan Israel) kini “mutlak lebih kuat daripada sebelumnya dari segi jumlah maupun tekad dan keimanan”, dan sama sekali tidak meredup akibat ancaman dan perang.

Dalam pidato berkenaan dengan peringatan 17 tahun mundurnya pasukan Israel dari Lebanon selatan, Kamis (25/5/2017), Sayyid Nassrallah menyatakan kubu muqawamah diperangi sudah sejak dulu, jauh sebelum KTT Riyadh, dan karena itu KTT ini beserta deklarasi dan retorikanya tidak menampilkan sesuatu yang baru.

Dia mengingatkan bahwa para pejuang muqawamah Lebanon dan Palestina mengetahui jalan yang dipilihnya beserta segala resiko yang dihadapinya.

“Mereka tidak akan meninggalkan gelanggang sampai semua kemenangan yang didambakan oleh bangsa-bangsa kami tercapai… Kami menyerukan penghentian perang terhadap Yaman, penghentian perang terhadap oposisi di Bahrain, dan penghentian dukungan kepada kelompok-kelompok takfiri,” tegasnya.

Sayyid Nasrallah memastikan bahwa orang menaruh keyakinan kepada muqawamah tidak akan menunggu siapapun di dunia maupun konsensus dalam negeri dan dukungan asing, apalagi pengalaman kemanangan muqawamah atas musuh, termasuk kelompok-kelompok teroris,  sudah terjadi berulangkali, dan tahap sekarang sangat krusial bagi sejarah Lebanon dan kawasan Timteng.

Mengenai Deklarasi Riyadh dia memastikannya tidak memiliki efek apapun terhadap situasi dalam negeri Lebanon.

“Deklarasi Riyadh dinyatakan dalam KTT bukan terhadap siapapun di antara para peserta, melainkan semata-mata buyar setelah semuanya bubar meninggalkan tempat,” tuturnya, sembari menyebutnya sebagai deklarasi “Amerika-Saudi”, “skandal”, dan “dagelan.”

“Apa yang perlu dicermati dalam Pertemuan Puncak Riyadh ialah kesepakatan-kesepakatan bilateral, apa yang dipersembahkan kepada AS, dan apa yang menjadi komitmen AS….  Tujuan Saudi dalam melakukan mobilisasi dalam pertemuan puncaknya ialah mengagungkan Trump dan menampilkan posisinya seolah sebagai negara pusat di dunia Arab, dan mendorong AS supaya masuk dalam konfrontasi langsung dengan Iran dan kubu muqawamah,” terangnya.

Dia menambahkan, “Saudi mengagungkan Trump yang rasis dan pendukung terbesar Israel, dan membesarkan peranan seorang presiden yang bahkan mendapat penentangan di dalam negaranya sendiri yang bisa jadi akan menjatuhkannya… Saudi telah memberikan kepada Trump apa yang belum pernah ia berikan kepada presiden-presiden (AS) sebelumnya, dan di balik pengagungan Trump itu berusaha melindungi sistemnya yang sudah jelas berada di balik faham takfiri.”

Menurut Sekjen Hizbullah, rezim Saudi sudah melihat keburukannya terungkap di depan mata dunia sehingga merasa perlu “menyuap” AS. Dunia memandang Saudi sebagai pusat faham takfiri dan pendukung utama kelompok-kelompok takfiri sehingga Riyadh “membutuhkan tuan Amerika demi menjaga peranannya di kawasan setelah semua proyeknya gagal, mengingat bahwa ISIS diawali dan didanai oleh Saudi…. Sedangkan Iran justru berdiri bersama bangsa-bangsa regional yang terdera terorisme.”

Dia menambahkan bahwa Iran yang menjadi tema dalam Deklarasi Riyadh bukanlah negara yang dikecam oleh presiden Mesir maupun raja Yordania dan Emir Kuwait, dan “dalam beberapa tahun terakhir ini segala sesuatu yang dapat melemahkan Iran sudah dilakukan oleh Saudi, tapi Iran justru semakin kuat dan tangguh.”

Sayyid Nasrallah lantas mengingatkan bahwa satu-satunya jalan penyelesaian bagi krisis Timteng ialah dialog dengan Iran yang memang selalu siap berdialog, dan “Saudi sendiri yang akan merugi dalam semua aksinya anti Iran.” (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL