Izz Ad-Dine Al-Qassam Brigades in Gaza StripGazaCity, LiputanIslam.com – Brigade Ezzedeen al-Qassam mengingatkan bahwa kesabaran Palestina pasti akan habis jika Israel tetap tidak konsisten kepada syarat-syarat perjanjian gencatan senjata yang diteken oleh kedua pihak. Demikian dilaporkan Alalam, Kamis kemarin (27/8).

Di sela-sela acara parade militer al-Qassam, Abu Obeda, juru bicara sayap bersenjata Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas) ini menegaskan, “Kesabaran di Gaza akan meledak terhadap musuh, dan gunung api kemarahan akan menjadi akibat yang fatal dan mematikan.”

Dia menyatakan bahwa agresi terhadap Gaza telah berubah menjadi strategi Israel dalam sejarah perjuangan bangsa Palestina, dan pertempuran akan menghasilkan pertanda tersendiri mengenai pengabaian kaidah-kaidah konfrontasi bangsa ini dengan Israel.

Rabu lalu, (26/8), sebanyak 35 kelompok penyalur bantuan internasional, termasuk Oxfam, ActionAid, danAvaaz menuntut penghentian blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Dalam statemen bersamanya mereka mendesak para pemimpin negara dunia supaya menekan Israel agar menghentikan blokadenya terhadap Jalur Gaza.

Sementara itu, jet tempur Israel kemarin melancarkan serangan ke Jalur Gaza dengan dalih membalas a penembakan roket dari Gaza ke wilayah selatan Israel.

Tanpa menyebutkan akibat serangannya itu, militer Israel mengaku telah membom sebuah tempat pembuatan senjata milik Hamas.
Di Tepi Barat, pasukan Zionis Israel pekan lalu menghancurkan 39 rumah warga sahara Palestina, mengakibatkan 126 orang Palestina, 80 di antaranya anak kecil, terlantar sebagai pengungsi.

Human Right Watch (HRW), sebagaimana dilansir Alyoum7, menyatakan rumah-rumah itu dihancurkan Israel dengan alasan tidak memiliki izin pendirian bangunan, sementara Israel sendiri tidak pernah memberi izin ketika diminta izin untuk itu.

Dalam rangka mengembangkan permukiman Zionis, Israel juga mengancam untuk menggusur warga sahara Palestina yang tinggal di wilayah perbukitan Baitul Maqdis (Jerussalem) dan bagian tengah Tepi Barat.

Warga Palestina itu menolak meninggalkan rumah-rumah mereka sambil menuntut pengembalian mereka ke tanah asal mereka di wilayah selatan Palestina, sebab mereka adalah keturunan warga Palestina yang diusir dari kampung halaman mereka itu pada tahun 1948.

Mei lalu pengadilan Israel mengeluarkan vonis penghancuran 340 rumah warga Palestina di sebuah desa. HRW menilai vonis itu sebagai pelanggaran Israel secara terbuka terhadap komitmennya terkait warga Palestina di wilayah pendudukan.

Sementara itu, sumber-sumber Palestina Rabu lalu menyatakan bahwa Ketua Dewan Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat diam-diam mengadakan pertemuan dengan ketua tim perunding Israel Sivan Shalum di Kairo, ibu kota Mesir, pada hari Ahad lalu.

Sumber-sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu dalam wawancara dengan Alresalah Net mengatakan keduanya telah mengadakan pertemuan selama 4 jam untuk membicarakan berbagai persoalan, terutama bekunya proses perdamaian dan upaya menghidupkan kembali perundingan.

Disebutkan bahwa dalam pertemuan ini Erekat menyampaikan kepada Shalom protes pemerintah otonomi Palestina terhadap tindakan represif Israel, terutama kontinyuitas proyek permukiman Zionis, penistaan tempat-tempat suci, dan keengganan Israel membebaskan semua tawanan Palestina.

Erekat juga mengatakan bahwa perwakilan pemerintah otonomi Palestina akan bersedia kembali k meja perundingan apabila Israel menghentikan proyek tersebut dan membebaskan kelompok terakhir tawanan Palestina yang semula sudah disepakati untuk dibebaskan. (mm)

Perundingan damai terakhir antara otoritas Palestina dan Israel dengan mediasi Amerika Serikat yang sudah berjalan sembilan bulan terhenti sejak Maret lalu tanpa menghasilkan kesepakatan final. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL