saudi brigjen ahmad assiri2

Jubir koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, Brigjen Ahmad al-Assiri.

Riyadh, LiputanIslam.com – Juru bicara koalisi Arab pimpinan Arab Saudi menyatakan pasukan koalisi ini telah memulai lagi serangan udaranya ke Yaman. Dia juga menuding kelompok Houthi telah melanggar gencatan senjata kemanusiaan berjangka waktu lima hari yang dimulai sejak Selasa malam pekan lalu waktu setempat atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

“Mereka tidak menghormati gencatan senjata kemanusiaan, karena itu kami melakukan apa yang wajib dilakukan,” kata Brigjen Ahmad al-Assiri kepada AFP, sebagaimana dikutip Rai al-Youm, Senin (18/5).

Serangan udara itu resmi dimulai lagi sejak Minggu malam dengan membom sasaran-sasaran di Aden setelah masa berlaku gencatan senjata dinyatakan usai pada pukul 23.00 waktu Yaman atau 20.00 waktu GMT atau Senin dini hari pukul 03.00 WIB.

Saudi dan sembilan negara sekutunya mulai melancarkan serangan udara ke Yaman sejak 26 Maret lalu dengan tujuan menumpas milisi Houthi yang menggerakkan revolusi rakyat terhadap pemerintahan presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi yang didukung Saudi dan kini berstatus pelarian di Riyadh, ibu kota Saudi. Meski serangan udara sudah berjalan hampir dua bulan penuh hingga kini tak ada tanda-tanda milisi Houthi melemah.

Sementara itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan prihatin karena gencatan senjata di Yaman tidak diperpanjang.
Juru bicara resmi Sekjen PBB Farhan Haq Senin (18/5) mengatakan, “Ban Ki-moon Ahad kemarin menyatakan sangat prihatin atas berakhirnya gencatan senjata kemanusiaan lima hari, tanpa adanya pernyataan apapun mengenai perpanjangannya.”

Dalam keterangannya kepada wartawan di kantor PBB di New York, Amerika Serikat, Farhan tidak berkomentar apapun mengenai pihak mana yang menyebabkan kegagalan perpanjangan gencatan senjata.

Namun dia mengatakan, “Kami menghendaki penghentian yang tuntas bagi peperangan di Yaman… Kekhawatiran kami sekarang antara lain berkenaan dengan terjadinya kelaparan di negara ini.”

Dia menambahkan, “Jumlah penduduk Yaman sekitar 25 juta – 26 juta jiwa. Seandainyapun kita yakin dapat menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada ratusan ribu orang atau beberapa juta orang maka kita tetap tidak dapat mengatasi kesulitan. Perang harus dihentikan dan semua pelabuhan negara ini harus dibuka. Mereka banyak bergantung kepada impor bahan pangan dari luar.”

Dia menepis laporan mengenai kemungkinan penyelenggaraan dialog antarkelompok Yaman di Jenewa, Swiss, pekan depan.

“Saya tak dapat memastikan kebenaran laporan mengenai penyelenggaraan konferensi di Jenewa pekan mendatang… Kami berpendapat bahwa kalaupun perang di Yaman berhenti, pembicaraan mengenai penyelenggaraan konferensi Jenewa masih  berupa asumsi,” katanya.

Sekjen PBB sendiri pekan lalu mengatakan pihaknya mengupayakan dialog antarkelompok Yaman yang akan diselenggarakan di negara lain, bukan di Saudi atau Yaman. Di pihak lain, Saudi menggelar konferensi bertema “Penyelamatan Yaman dan Pendirian Pemerintahan Persatuan Yaman” di Riyadh, Minggu lalu (17/5). Namun gerakan Ansarullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan kelompok Houthi tidak hadir dalam konferensi tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL