Ankara, LiputanIslam.com –  Pengamat Turki Islam Ozkan menilai Arab Saudi sedang tertekan krisis keuangan besar yang jika berkelanjutan maka akan terpaksa keluar dari perang Yaman, sementara media Barat menutup mata di depan tragedi kemanusiaan di Yaman karena berkepentingan dengan Saudi.

“Barat dengan semua lembaga dan media massanya menutup mata di depan tragedi kemanusiaan Yaman. Pertempuran di Yaman terus berlanjut meskipun di sana terjadi wabah penyakit menular, tapi media Barat hanya meliput berita seputar konfrontasi antara pasukan Houthi (Ansarullah) dengan pasukan Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat (AS),” katanya dalam wawancara dengan Sputnik milik Rusia, seperti dikutip IRNA, Selasa (15/8/2017).

Dia menjelaskan bahwa Barat enggan memberitakan tragedi kemanusiaan di Yaman sengaja untuk mereduksi kedahsyatan tragedi ini, karena Barat memilki kepentingan yang sama dengan Saudi.

“Bahkan negara-negara yang kepentingannya tidak berkaitan langsung dengan Arab Saudi melainkan sebatas berhasrat memiliki hubungan baik dengan Riyadh dan tidak terlibat dalam konflik ternyata juga melakukan sensor berita mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di Yaman,” imbuhnya.

Menyinggung krisis Qatar dia menerangkan, “Krisis yang terjadi dalam hubungan Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir dengan Qatar merupakan titik kulminasi peliputan aneka peristiwa yang terjadi di Yaman, sebab saluran berita Al-Jazeera yang hendak ditutup oleh empat negara Arab ini telah menggambarkan peristiwa yang terjadi di Yaman dan ini mengundang perhatian lebih besar kepada Yaman.”

Dia mengecam sikap AS dan bahkan Utusan Khusus PBB untuk Yaman karena keduanya berpihak kepada Saudi, padahal seharusnya netral.

Menurut Ozkan, krisis Yaman sulit diharapkan akan segera selesai melalui jalur dialog dan damai.  Karena itu dia menyarankan pengadaan sebuah lembaga yang netral dan tekanan serius dari khalayak internasional.

“Arab Saudi hanya akan mengubah sikapnya pada dua cara; tekanan serius internasional dan ancaman kongret akibat krisis moneter. Sebagaimana AS terpaksa meninggalkan Lebanon, pemerintah Riyadhpun pada akhirnya juga akan terpaksa meninggalkan Yaman,” ungkapnya.

Pada 15 Juli 1958 tentara AS melakukan intervensi militer di Lebanon atas permintaan Presiden Lebanon saat itu, Camille Chamoun, namun tiga bulan kemudian terpaksa keluar dari Lebanon. (mm/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL