LiputanIslam.com – Hubungan Arab Saudi dengan Iran kian memburuk setelah rudal balistik Yaman menjangkau Riyadh. Putera Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman angkat bicara dan menyebut bantuan rudal Iran kepada kelompok Ansarullah (Houthi) merupakan agresi militer secara langsung Iran terhadap Saudi.

Dalam kontak telefon dengan Menlu Inggris Boris Johnson, Selasa (7/11/2017),  dia mengatakan, “Tindakan Iran menyuplai rudal ke milisi Houthi yang menjadi merupakan agresi militer dan langsung dari rezim Iran, dan bisa jadi akan naik untuk dianggap sebagai perang terhadap Kerajaan Saudi.”

Sebelumnya, Menlu Saudi Adel Al-Jubeir mengancam bahwa pada tempat dan saatnya yang tepat nanti Saudi akan membalas “teror Iran”.

Saudi memperketat blokadenya terhadap Yaman dan memutuskan untuk menutup semua perbatasan darat, laut, dan udaranya sebagai reaksi atas serangan rudal Burkan 2-H Ansarullah terhadap Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang konon dicegat oleh rudal Patriot buatan Amerika Serikat (AS).

Blokade yang menekan lebih dari 20 juta bangsa Yaman itu dilakukan dengan dalih mencegah penyelundupan rudal buatan Iran ke Yaman. Rudal yang panjangnya lebih dari 3 meter itu sejak awal sulit diselundupkan melalui udara karena semua pesawat terbang hanya diperbolehkan masuk ke Yaman apabila diperiksa oleh pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi. Dan hal yang sama juga diterapkan di semua pelabuhan laut dan pintu masuk perbatasan darat.

Pihak Ansarullah sendiri mengaku memiliki keahlian membuat rudal itu sebagaimana keahlian Hamas di Jalur Gaza, namun tidak menepis peran Iran dalam mengajar dan melatih mereka membuat rudal.

Perbatasan darat Yaman-Saudi membentang hingga lebih dari 1400 kilometer, di samping perbatasan laut dengan panjang yang kurang lebih sama di Laut Arab dan Laut Merah, sehingga pengawasan terhadap semua wilayah perbatasan tentu tidaklah mudah.

Rudal yang diluncurkan Ansarullah Sabtu pekan lalu mencapai bandara di Riyadh sehingga menjadi satu perubahan besar dalam perang Yaman. Memang, serangan ini tak sampai melumpuhkan proses penerbangan kecuali hanya beberapa jam saja, tapi merupakan peristiwa dan perkembangan mutakhir yang menimbulkan kepanikan di tengah penduduk Riyadh serta mengundang pertanyaan mengapa rudal itu sampai melesat mulus dan masuk sejauh itu ke wilayah Saudi tanpa dicegat sistem pertahanan udara Patriot sejak awal.

Al-Jubeir melalui akun Twitter-nya menyebutkan, “Terorisme Iran berkelanjutan untuk mengintimasi orang-orang yang aman, membunuh anak-anak kecil, dan melanggar undang-undang internasional. Setiap hari semakin jelas bahwa milisi Houthi merupakan alat terorisme untuk menghancurkan Yaman.” Dia menambahkan, “Kerajaan Arab Saudi berhak membalas Iran pada tempat dan waktu yang tepat.”

Pengetatan blokade darat, laut, dan udara terhadap Yaman belum tentu dapat mencegah penyelundupan rudal seperti yang diharapkan, dan yang pasti adalah menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap penduduk Yaman yang jumlahnya lebih dari 20 juta dengan kondisi 17 juta di antaranya menderita kelaparan, atau malnutrisi dan hanya sekali makan dalam satu hari, dan belum lagi wabah penyakit semisal kolera yang terus mengancam mereka.

Saudi juga membuat sayembara berhadiah 400 juta Dolar AS bagi orang yang dapat memberikan informasi yang dapat membantu penangkapan Abdel Malik Al-Houthi, Saleh Al-Samad dan para petinggi Ansarullah lainnya. Sayembara ini bisa jadi juga percuma, sebab mereka nyata-nyata ada di Sa’dah dengan alamat yang relatif jelas, tak seperti mendiang pemimpin Al-Qaeda, Osama Bin Laden, atau wakilnya, Ayman Al-Zawahiri, yang selalu hidup dalam persembunyian.

Pihak Ansarullah mengaku berhak meluncurkan rudal itu karena semata-mata merupakan reaksi terhadap serangan udara bersandi “Badai Mematikan” yang sudah sekira tiga tahun dilancarkan Saudi dan sekutunya tanpa henti terhadap berbagai kota dan daerah di Yaman dan telah menjatuhkan puluhan ribu korban yang sebagian besar adalah warga sipil Yaman, banyak di antaranya anak kecil dan kaum perempuan. Ansarullah berharap rudal-rudalnya dapat menghentikan serangan udara ini.

Seperti Suriah, Yaman menjadi medan perang proxy antara Saudi dan sekutu di satu pihak dan Iran dan sekutunya di pihak lain, dan bukan tidak mungkin akan berubah menjadi perang langsung. Tak jelas kapan dan bagaimana Saudi akan “membalas” Iran seperti yang dinyatakan Al-Jubair, dan apakah Saudi akan nekat menyerang Teheran dengan rudal dan jet tempur.

Yang jelas, rudal Burkan H-2 yang telah diluncurkan ke Riyadh bukanlah yang teakhir. Jubir Ansarullah, Mohammad Abdul Salam, di channel Al-Jazeera bahkan mengancam juga akan merudal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sehingga tidaklah mengejutkan apabila suatu saat nanti rudal Ansarullah menerjang Riyadh lagi dan menjangkau Abu Dhabi, dan kemudian terjadi konfrontasi langsung Saudi dan sekutunya dengan Iran.

Sejak rudal rezim Saddam Hossein di Irak menjangkau Riyadh dan menerjang Kemendagri Saudi, ibu kota Saudi belum pernah tersentuh bahaya rudal selama 26 tahun. Lantas apakah rudal Ansarullah, baik buatan lokal ataupun hasil selundupan dari Iran, akan mengubah Riyadh dan kota-kota Saudi lain menjadi medan perang, dan sampai kapan, apalagi rudal yang telah diluncurkan itu terbukti memiliki presisi yang sangat tinggi dalam menerjang sasarannya?

Pertanyaan ini akan terjawab pada beberapa pekan atau bulan mendatang seiring dengan perkembangan situasi perang Yaman.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL