Mohammad Bin Salman Bin Abdulaziz, Menhan Arab Saudi.

Riyadh, LiputanIslam.com –  Persekutuan Saudi dengan Amerika Serikat (AS) tampak masih mulus meskipun Gedung Putih sudah berganti penghuni yang disebut-sebut sangat anti umat Islam, setidaknya ketika keduanya berbicara tentang Iran.

Dalam percakapan telefon Mohammad Bin Salman Bin Abdulaziz,  wakil putera mahkota merangkap menhan Saudi, dengan Menhan AS, James Mattis, Selasa malam lalu (31/1/2017), keduanya menyatakan “menolak sepenuhnya campurtangan rezim Iran dan perwakilannya dalam urusan negara-negara regional (Timteng) dengan tujuan menggoyang keamanan dan stabilitas di sana.”

Keduanya juga menekankan pengembangan hubungan strategis bilateral di bidang-bidang yang lebih luas.

Mattis menyatakan negaranya “siap bekerja bahu membahu bersama Bin Salman di semua bidang.”

Dia kemudian mengecam serangan Ansarullah Yaman terhadap kapal perang Saudi di Laut Merah dekat pelabuhan Hudaidah, Yaman, dan mengucapkan belasungkawa atas kematian dua  tentara Saudi akibat serangan tersebut.

Sementara itu, Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Alam Saudi Khaled al-Falih, dalam mengomentari heboh kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump mengatakan, “AS berhak menjamin keselamatan rakyatnya.”

Pernyataan ini terkait dengan keputusan Trump menerapkan larangan masuk ke AS yang berlaku selama 90 hari bagi warga negara Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman, penangguhan masuknya semua pengungsi selama 120 hari, dan larangan masuk secara tanpa batas bagi pengungsi Suriah.

Keputusan ini mendapat kecaman dari berbagai negara, termasuk negara-negara Eropa, Sekjen PBB Antonio Guterres, dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). (mm/spa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL