Washington, LiputanIslam.com –  Berbagai kalangan menduga bahwa pemutusan hubungan diplomatik sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, dengan Qatar merupakan sebentuk persiapan untuk serangan total terhadap Qatar.

Prof. Ali al-Ahmed, pendiri dan direktur Institute for Gulf Affair di Washington, Amerika Serikat (AS), mengatakan, “Keputusan Saudi memutus semua hubungan dengan pemerintah Qatar dan memblokir semua perbatasan darat, laut dan udara terhadapnya bisa jadi merupakan persiapan untuk perang total terhadap Doha… Saya mengetahui  informasi adanya pergerakan militer Saudi dekat perbatasan Qatar. Jadi, Saudi bersiap,” tuturnya.

Dia mengingatkan bahwa perang total terhadap Qatar bisa berkobar kapan saja dan lebih cepat dari yang diduga oleh siapapun.

Dia mengatakan bahwa di Yaman terjadi penurunan frekuensi operasi militer secara signifikan sehingga menjadi sinyalemen penting.

“Ini menandakan bahwa Saudi sedang menghimpun kekuatannya untuk tindakan mengejutkan terhadap Qatar,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negerinya, Rex Tillerson, akan mendukung invasi militer Saudi terhadap Qatar.

“Saya kira dia (Trump) sudah memberitahu Saudi bahwa dia sama sekali tidak keberatan (atas invasi)… Dan jika Saudi menyerang Qatar maka juga akan mendapat dukungan kuat dari Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain… Saudi sangat marah terhadap Qatar. Mereka tidak menginginkan situasi di Qatar mereda. Mereka berobsesi mencerabut peranan Qatar dan menjadikannya semata-mata sebagai pengikut Riyadh,” ungkap al-Ahmed.

Mengenai tujuan Saudi, al-Ahmed menjelaskan dua tujuan. Pertama, membuat Qatar tunduk kepada Saudi. Kedua, menguasai cadangan devisa Qatar yang jumlahnya sangat besar.

“Mereka menginginkan cadangan ini, dan tampak bahwa mereka telah bertekad untuk menguasai para pemimpin Qatar,” pungkasnya. (mm/sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL