London, LiputanIslam.com –  Dalam beberapa hari terakhir pernyataan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan intensitas peringatan dari Rusia mengenai kemungkinan Amerika Serikat (AS) menggunakan isu penggunaan senjata kimia di Ghouta Timur oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) dinilai oleh jurnalis senior Arab Abdel Bari Atwan sebagai perkembangan krusial dalam krisis Suriah sehingga perkembangan selanjutnya dalam beberapa hari atau minggu ke depan bisa jadi akan fatal.

Assad menyatakan pantang mundur dalam perang melawan teroris meskipun Barat membuat skenario untuk menyerang Suriah, sementara Menlu Rusia Sergey Lavrov dalam statemen resminya menyesalkan eskalasi ancaman militer AS secara sepihak terhadap Suriah dan memastikan bahwa Negeri Beruang Merah akan mengambil tindakan yang diperlukan jika AS menyerang pemerintah Suriah karena serangan ini dapat mencelakakan para penasehat Rusia yang ada di Damaskus dan posisi-posisi Kemhan Suriah.

Atwan dalam artikelnya di media online Ray al-Youm yang dipimpinnya, Rabu (14/3/2018), mencatat bahwa selama krisis Suriah yang sudah berlangsung tujuh tahun baru sekarang Rusia menyebutkan nama sasaran yang berpotensi diserang AS dan kemudian memberikan peringatan soal ini.

Suhu krisis Suriah memanas manakala kepala staf militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengaku “memiliki informasi akurat bahwa kelompok-kelompok oposisi telah menyiapkan skenario serangan kimia oleh pasukan pemerintah terhadap warga sipil.”

Dia menilai hal ini diperkuat oleh adanya “temuan laboratorium pembuatan senjata kimia di distrik Aftaris yang telah berhasil dibebaskan dari para teroris”, dan di beberapa distrik Ghouta Timur “sudah ada para aktor laki-laki, anak kecil, dan lansia untuk diperankan sebagai korban serangan kimia”, sementara “sebuah tim televisi dengan sarana siaran via satelit” juga sudah ada di tempat.

Tuduhan bahwa SAA menggunakan senjata kimia bukanlah kabar baru, melainkan sesuatu yang bahkan sudah pernah dieksekusi oleh AS dengan menyerang pangkalan udara Shayrat di provinsi Homs pada tahun 2017 dengan 59 rudal Cruise dengan dalih menghukum tentara Suriah atas apa yang disebutnya penggunaan senjata terlarang itu di kota Khan Shekhoun, provinsi Idlib. Namun, menurut Atwan, sesuatu yang baru sekarang ialah disebutkannya Damaskus sebagai sasaran, padahal ibu kota Suriah ini sudah sekian tahun terlindungi oleh “kesefahaman” antar kekekuatan besar dunia.

Rusia mengantongi informasi mengenai kemungkinan AS melanggar garis merah dan melancarkan serangan udara yang bukan lagi sekedar unjuk gigi seperti ketika ia melesatkan lusian rudal ke pangkalan udara Sheyrat. Karena itu Rusia lantas memberikan isyarat tegas bahwa jika serangan itu terjadi maka Rusia akan bereaksi dengan dalih melindungi para penasehatnya.

Trump sendiri sudah dikenal sebagai sosok yang angkuh dan ceroboh, apalagi setelah baru-baru ini dia memecat Rex Tillerson dari jabatan Menlu AS dan menggantinya dengan sosok rasialis garis keras Mike Pompeo. Para menterinya juga menilanya tidak akan segan-segan membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran dan menabuh genderang perang terhadap Iran sekaligus Suriah.

Menurut Atwan, jika AS jadi menyerang Suriah maka di tahap awalpun reaksi Rusia bisa jadi tidak sebatas menangkis rudal AS dan menjatuhkan jet tempurnya melainkan juga akan menyerang tentara AS yang bercokol di Suriah utara, apalagi jika ada penasehat militernya yang sampai menjadi korban serangan AS.

Dengan demikian, lanjut Atwan, krisis Suriah yang sudah memasuki tahun ke-8 kini semakin memanas. Keberhasilan kubu Rusia-Suriah-Iran di lapangan serta asumsi bahwa AS akan mundur kini terancam oleh kemungkinan AS menabuh genderang perang dan enggan menerima kekalahan dalam perang proksi sehingga membuat pertimbangan-pertimbangan baru yang menandai memuncaknya persiteruan hebat antara kubu Rusia dan kubu AS.  (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL