kerry_lavrovYerevan, LiputanIslam.com –  Menlu Rusia Sergey Lavrov mengaku pessimis dan “tidak memiliki harapan khusus”  pada putaran mendatang perundingan multilateral mengenai masa depan Suriah, karena di mata Moskow negara-negara Barat masih belum menunjukkan langkah timbal balik.

Dia mengatakan Rusia tidak berniat untuk memperkenalkan inisiatif segar dalam perundingan yang dijadwalkan berlangsung kota Lausanne, Swiss, hari ini, Sabtu (15/10/2016).

“Kami ingin turun ke pekerjaan yang kongkret dan melihat seberapa baik mitra kami mengamati resolusi Dewan Keamanan PBB (mengenai Suriah). Kami tidak akan mengusulkan hal lain, “katanya kepada wartawan di ibukota Armenia, Yerevan, Jumat (14/10/2016).

Di hari yang sama Kemlu Iran mengumumkan bahwa Menlu Mohammad Javad Zarif akan berpartisipasi dalam perundingan di Lausanne yang juga akan dihadiri oleh  Menlu Amerika Serikat (AS) John Kerry dan para menteri luar negeri dari Turki, Qatar, dan Arab Saudi.

Gencatan senjata Suriah yang dimediasi oleh AS dan Rusia berakhir pada 19 September lalu setelah sempat berlaku selama satu minggu.

Pemerintah Suriah menolak untuk memperpanjang gencatan senjata sebagai reaksi terhadap serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS terhadap pangkalan militer Suriah di provinsi Deir al-Zor yang mengakibatkan lebih dari 80 tentara Suriah terbunuh dan 100 lainnya luka-luka.

Rusia juga mengecam AS karena tidak mampu mengendalikan militan di Suriah dan mengawal gencatan senjata. Rusia menyatakan bahwa pelanggaran lanjutan terhadap gencatan senjata oleh militan membuat pihak berwenang Suriah “tidak masuk akal” jika tetap berkomitmen pada perjanjian.

Namun demikian, Wakil Menlu Rusia Mikhail Bogdanov berharap pemberlakuan lagi gencatan senjata akan dibahas pada pertemuan di Lausanne. (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL