Moskow, LiputanIslam.com –  Wakil Menlu Rusia Sergey Vershinin menyatakan bahwa lebih dari 40% zona de-eskalasi di Suriah selatan dikuasai oleh dua kelompok teroris besar.

“Sekarang lebih dari 40% luas zona de-eskalasi ini masih dikuasai oleh Jabhat al-Nusra dan IS (ISIS),” katanya dalam rapat Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Timteng, Senin (25/6/2018).

Dia menambahkan bahwa di kawasan itu tidak mungkin diberlakukan gencatan senjata dengan kelompok-kelompok yang oleh Dewan Keamanan PBB juga diakui sebagai organisasi-organisasi teroris.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melaporkan kepada PBB di Suriah selatan terjadi pelanggaran perjanjian de-eskalasi oleh tentara negara yang masih dilanda perang ini.

Vershinin mengatakan, AS sudah satu tahun berada di zona de-eskalasi ini, dan tak seperti komitmennya, ia tidak berbuat apapun untuk mendukung perang melawan teroris.”

Dia juga mengingatkan bahwa zona de-eskalasi diadakan “bukan untuk pembagian sebuah negara anggota PBB dan pengukuhan keberadaan teroris di sana.”

Perjanjian de-eskalasi di bagian barat daya Suriah diadakan pada tahun lalu dengan kesepakatan segi tiga Rusia, AS, dan Yordania.  Belakangan ini pasukan pemerintah Suriah melancarkan operasi militer untuk menumpas kawanan teroris yang bercokol di kawasan tersebut sehingga membangkitkan reaksi kecaman dari AS.

Sementara itu, PBB menyatakan prihatin atas eskalasi di bagian barat daya Suriah dan pengungsian sebanyak 45,000 penduduk menuju perbatasan Yordania akibat kecamuk pertempuran.

Wakil Jubir Sekjen PBB Farhan Haq dalam jumpa pers di kantor PBB, New York, AS, mengatakan bahwa Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) merasa cemas atas laporan-laporan mengenai meningkatnya kekerasan di Suriah barat daya sehingga mengancam keamanan 750,000 penduduk.  (mm/rt/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*