Moskow, LiputanIslam.com – Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia Sergey Naryshkin mengecam keputusan Amerika Serikat (AS) terkait dengan kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem), Dataran Tinggi Golan, Suriah, yang diduduki Israel, dan perjanjian nuklir Iran.

“Keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel bertentangan dengan resolusi PBB, dan penarikan sepihak Washington dari perjanjian nuklir Iran melemahkan upaya kolektif untuk menstabilkan Timur Tengah,” ungkap Naryshkin pada Konferensi Keamanan Internasional Moskow, Kamis (25/4/2019), sebagaimana dilaporkan RT.

Dia menambahkan bahwa keputusan AS ini dapat mengandaskan prinsip negosiasi multilateral dalam upaya penyelesaian krisis Timur Tengah.

Pada awal Desember 2017, Presiden AS Donald Trump mengakui al-Quds sebagai ibu kota Israel, dan kemudian memutuskan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke al-Quds, yang dilakukan pada Mei 2018.

Pada 25 Maret 2019, di hadapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump  meneken sebuah dekrit presiden yang mengakui kedaulatan Israel atas wilayah pendudukan Golan.

Israel menduduki Dataran Tinggi Golan Suriah pada tahun 1967, dan pada tahun 1981 Knesset mengesahkan undang-undang pencaplokan Golan, tapi masyarakat internasional masih memperlakukan wilayah itu sebagai wilayah Suriah yang diduduki Israel.

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak Trump mengumumkan penarikan AS dari perjanjian nuklir dengan Iran pada 2015. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*