Moskow, LiputanIslam.com –  Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) mengenai kawasan Dataran Tinggi Golan milik Suriah mendapat kecaman dari berbagai negara, termasuk Rusia, Inggris, dan Palestina.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan bahwa pernyataan Trump  untuk mengakui kawasan tersebut sebagai ajakan yang tak bertanggung jawab.

Senada dengan ini, juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov menyebutnya ancaman bagi stabilitas  Timur Tengah.

Trump di Twitter pada Kamis lalu menyatakan bahwa sudah waktunya untuk mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki pasukan Zionis dalam perang Timur Tengah 1967.

“Seruan-seruan sedemikian rupa dapat terus dan serius mengganggu stabilitas situasi di Timur Tengah yang memang tegang. Bagaimanapun juga, ide ini tidak cocok dengan tujuan penyelesaian di Timur Tengah, dan justru sebaliknya,” ungkap Peskov kepada wartawan, Jumat.

Dia menambahkan: “Itu (pernyataan Trump) hanya ajakan belaka, dan kami berharap agar tetap menjadi sekedar ajakan.”

Kementerian Luar Negeri Inggris juga angkat bicara dengan menegaskan bahwa Inggris masih menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai “wilayah Suriah yang diduduki oleh Israel.”

“Inggris memandang Dataran Tinggi Golan diduduki Israel… Aneksasi wilayah dengan kekerasan dilarang berdasarkan hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Kami tidak mengakui aneksasi Golan oleh Israel pada 1981, dan kami tidak punya rencana untuk mengubah sikap kami,” ungkap kementerian itu.

Juru bicara kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, dan faksi pejuang Hamas juga mengutuk seruan Trump terkait Golan.

“Legitimasi al-Quds (Yerussalem) dan Golan masing-masing ditentukan oleh rakyat Palestina dan rakyat Suriah sendiri,” tegas Rudeineh, Jumat.

Dia menjelaskan, “Setiap keputusan pemerintah AS yang bertentangan dengan hukum dan legitimasi internasional tidaklah bernilai, tidak akan memberikan legitimasi kepada pendudukan Israel, dan akan tetap menjadi sekedar tintas di atas kertas.”

Dia menambahkan: “Eskalasi Israel diimbangi dengan keberpihakan AS yang buta dan mengarah kepada eskalasi dan ketegangan lebih lanjut di kawasan.”

Sementara itu, juru bicara Hamas Fawzi Barhoum menyebut pernyataan Trump “mencerminkan kebijakan arogansi dan hegemoni AS di kawasan untuk melegitimasi pendudukan Israel, dan penghancuran serta penjarahan aset umat.”

Barhoum menuding Washington “berusaha memaksakan realitas di lapangan sehingga dapat menimbulkan krisis baru yang sama sekali tidak melayani keamanan dan stabilitas kawasan.”

Dia memastikan bahwa  Rezim Zionis Israel sama sekali tidak memiliki kedaulatan dan legitimasi atas bagian mana pun dari tanah Arab dan Islam, dan akan tetap menjadi kekuatan pendudukan rasisme dan sumber terorisme. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*