AL RusiaDamaskus, LiputanIslam.com – Angkatan Laut (AL) Rusia beberapa hari lalu menggelar latihan perang di perairan antara lepas pantai Suriah dan lepas pantai Cyprus, dan dalam rangka ini beberapa jalur udara ditutup.

Sebagaimana dilaporkan FarsNews, Jumat kemarin (11/9) dokumen-dokumen resmi yang ada di situs Notices to Airmen (NOTAM) menunjukkan bahwa AL Rusia sejak Selasa lalu (8/9) menggelar latihan tembak rudal di Laut Tengah di sebelah barat Suriah yang berjarak 70 km dari Pelabuhan Tartus.

Dalam situs itu diumumkan bahwa AL Rusia menggelar latihan tempur di perairan bebas antara lepas pantai barat Suriah dan lepas pantai timur Cyprus dalam dua tahap, yaitu pada 8 – 17 September dan 30 September – 7 Oktober.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa berkenaan dengan suplai senjata Rusia ke Suriah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov Jumat kemarin mengatakan bahwa suplai itu ditujukan untuk menjaga kepabilitas tentara Suriah dalam perang melawan kelompok teroris ISIS.

Dia menambahkan bahwa pengiriman senjata untuk “pemerintahan Suriah yang sah” akan terus dilakukan oleh Rusia.
Sehari sebelumnya, Lavrov mengakui bahwa beberapa penerbangan pesawat dari Rusia ke Suriah membawa bantuan militer. Dia juga menyatakan bahwa di Suriah terdapat para penasehat militer Rusia.

Bantuan Rusia kepada Suriah mendapat dukungan dari pemerintah Jerman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman Martin Schaefer menyatakan negaranya mengambil sikap berseberangan dengan AS, yaitu mendukung partisipasi Rusia dalam perang melawan ISIS.

“Mengingat bahaya para teroris Islamis, saya kira kita perlu mendukung keterlibatan aktif ferederasi Rusia dan presiden negara ini dalam perang melawan ISIS,” katanya.

Dia menyinggung peranan Iran dalam penyelesaian krisis Suriah.

“Tak syak lagi bahwa Rusia dan Iran, dengan alasan-alasan yang jelas, merupakan pemain penting dalam proses penyelesaian krisis Suriah,” tuturnya.

Negara-negara Eropa belakangan ini kalang kabut akibat kedatangan gelombang pengungsi asal Suriah, sementara Jerman dan Swedia menjadi tujuan utama gelombang tersebut.

Lembaga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unicef ) Jumat kemarin menyatakan bahwa jika perang Suriah tidak segera reda maka tidak tertutup kemungkinan akan ada jutaan pengungsi lagi dari Suriah.

“Bisa jadi akan ada jutaan pengungsi lain yang meninggalkan Suriah, dan pada akhirnya bergerak menuju Eropa,” kata Peter Salama, Direktur Regional Unicef untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL