Moskow, LiputanIslam.com – Dewan Keamanan PBB mengadakan aklamasi, Kamis (16/11/2017), untuk dua draf resolusi menyangkut perpanjangan misi tim penyelidikan kasus penggunaan senjata kimia di Khan Shaykhoun, Suriah, namun Rusia memberikan isyarat kuat untuk menggunakan hak vetonya.

Dua draf itu masing-masing diajukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Rusia berkenaan dengan perpanjangan “mekanisme penyelidikan bersama” yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus penggunaan senjata kimia di Suriah selama satu tahun.

Menlu Rusia Sergey Lavrov memberikan isyarat yang lebih jelas lagi daripada sebelumnya bahwa Moskow menggunakan veto dalam aklamasi untuk draf yang diajukan oleh Washington.

“Untuk alasan ini, resolusi AS sama sekali tidak ada kemungkinan untuk disetujui,” katanya dalam jumpa pers, Kamis (16/11/2017).

Dia mengecam isi draf AS itu dengan menyebutnya “sama sekali tak dapat diterima”.

Dia menambahkan, “Mereka mencoba meyakinkan kita bahwa mekanismenya berjalan dengan cara yang benar, dan ini sama sekali tidak menghargai keahlian intelektual para ahli kami. Kami telah menyebarkan semua pertanyaan dan analisis terperinci dan tersedia untuk umum.”

Diplomat terkemuka Rusia ini mencatat bahwa Moskow telah mengusulkan perubahan dalam draf resolusi yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh Dewan Keamanan PBB. Dokumen ini ditujukan untuk “pekerjaan yang tidak bias dari mekanisme ini sebagaimana dipersyaratkan dalam Konvensi Senjata Kimia.”

Dia memastikan bahwa veto Washington terhadap draf resolusi Rusia untuk perpanjangan mandat Mekanisme Investigasi Bersama OPCW (Organisasi Larangan Senjata Kimia)-PBB mengenai serangan kimia Suriah hanya akan berarti keinginan AS untuk melestarikannya sebagai alat manipulasi.

“Jika draf kami dibendung oleh AS atau AS bersama-sama dengan sekutu mereka, ini hanya akan berarti bahwa mereka tidak memerlukan kebenaran tentang siapa dan bagaimana menggunakan senjata kimia. Mereka perlu menjaga mekanisme investigasi ini sebagai alat yang patuh untuk menipulasi opini publik dan semua negara anggota PBB, “lanjut  Lavrov.

Veto Rusia ini menjadi veto ke-10 negara ini di Dewan Keamanan PBB untuk mencegah keluarnya resolusi yang  bertujuan menekan Suriah yang notabene sekutunya.

Para diplomat di PBB Rabu lalu menduga Rusia akan menggunakan hak vetonya setelah perundingan untuk pendekatan pendapat gagal.

Draf Rusia meminta peninjauan ulang misi tim penyelidik dan pembekuan laporan-laporan terbarunya yang menuduh pemerintah Damaskus bertanggungjawab dalam kasus serangan kimia di kota Khan Shaykhoun, Suriah, yang menewaskan 80 orang pada 4 April lalu.

AS menentang keinginan Rusia ini dan mengajukan draf yang mencanangkan sanksi hukuman terhadap pihak yang bertanggungjawab dalam penggunaan senjata kimia di Suriah. Draf AS ini didukung oleh negara-negara Eropa anggota Dewan Keamanan.

Misi tim penyelidik itu berakhir Kamis kemarin, dan perpanjangannya menjadi bahan perselisihan sengit antara Washington dan Moskow sejak beberapa pekan lalu akibat perbedaan sikap keduanya terhadap laporan tim ini dan OPCW mengenai insiden Khan Shaykhoun. (mm/rayalyoum/tass)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL