Moskow, LiputanIslam.com –  Wakil Ketua Komisi Pertahanan Rusia  Yury Shvytkin memastikan negaranya akan segera bereaksi jika posisi militernya di Suriah dijadikan sasaran serangan Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang terjadi di Irak.

Yury Shvytkin mengatakan, “Saya kira kecil kemungkinan Rusia terlibat langsung dalam penangkisan serangan, namun tindakan-tindakan yang telah diambil pasca serangan rudal (AS) cukup memadai dalam segala keadaan, bertolak dari apa yang dapat kami lakukan dalam kerangka undang-undang internasional, walaupun tentara Suriah sendiri dapat bereaksi.”

Dia mengingatkan bahwa di daratan Suriah terdapat instalasi-instalasi militer Rusia.

“Jika satuan-satuan kami terancam maka Presiden AS Donald Trump dan semisalnya harus mengetahui dampak-dampaknya. Di sini yang akan terjadi sama sekali bukan lagi kata-kata, melainkan tindakan-tindakan realistis,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang terjadi di Irak.

Dalam jumpa pers dengan sejawatnya dari Italia, Sergio Mattarella, di Moskow, Selasa, Putin mengatakan, “Situasi di Suriah mengingatkan kita kepada apa yang terjadi di Irak ketika AS memulai serangannya ke Baghdad setelah ada pernyataan di Dewan Keamanan… dan kami memiliki informasi mengenai rencana AS menyerang Damaskus selatan.”

Dia mengaku mendapatkan informasi dari sumber-sumber terpercaya bahwa di Suriah terdapat provokasi berkenaan dengan senjata kimia, termasuk di kawasan Damaskus.

Putin menambahkan, “Serangan AS di Suriah mengingatkan kepada klaim-klaim adanya senjata perusak massal di Irak yang membuat pasukan AS menyerbu Irak pada tahun 2003.”

Jumat dini hari pekan lalu, dua kapal perang AS menembakkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di tenggara Homs, Suriah. Presiden AS Donald Trump berdalih bahwa pangkalan ini digunakan oleh tentara Suriah untuk melancarkan serangan bom kimia di Khan Shekhoun, Idlib, yang menewaskan sekira 100 orang dan melukai 500 lainnya pada 4 April lalu.

Namun demikian, sehari setelah serangan Tomahawk tersebut pangkalan Shayrat ternyata masih relatif utuh sehingga dapat digunakan lagi oleh tentara Suriah untuk menerbangkan jet tempurnya dalam operasi militer melawan teroris.  Beberapa laporan menyebutkan bahwa dari 59 rudal yang ditembakkan AS hanya 23 yang menjangkau pangkalan udara Suriah tersebut, sedangkan yang lain tertangkis. (mm/rt/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL