Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Hassan Rouhani melontarkan kecaman yang sangat pedas terhadap Raja Salman Bin Abdulaziz Al-Saud, antara lain dengan menyatakan bahwa pihak yang mengaku sebagai “Khadimul Haramain”  (pelayan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) masih melanjutkan kejahatannya terhadap bangsa Muslim Yaman tanpa ada penyesalan atas perbuatan selama ini.

Di sela-sela rapat kenegaraannya, Rabu (15/11/2017), dia juga mengingatkan bahwa keberadaan kekuatan-kekuatan asing di kawasan Teluk dan Timteng secara umum alih-alih bermanfaat malah menimbulkan banyak problema bagi negara-negara regional.

Menurut Rouhani, situasi di Yaman sangat tragis dan rakyat negara ini sudah sekian tahun menderita akibat wabah penyakit, kemiskinan, dan serangan tanpa henti Saudi dan sekutunya.

“Mengapa sebuah negara Muslim yang penguasanya mengaku sebagai Khadimul Haramaian malah melakukan semua kejahatan ini terhadap bangsa Yaman tanpa menunjukkan penyesalan sama sekali sehingga tetap melanjutkannya?” kecam Rouhani.

Dia juga mengritik kebungkaman PBB di depan kejahatan yang didukung oleh kekuatan-kekuatan Barat sehingga PBB sama sekali tidak mengambil sikap yang tegas dan mengikat terkait dengan kejahatan ini.

“Sebagian orang di kawasan ini beranggapan bahwa keberadaan kekuatan-kekuatan besar akan menyajikan keamanan di dalamnya. Karena itu mereka mengandalkan Inggris, Amerika Serikat (AS), dan kekuatan-kekuatan lain, sementara semua orang sekarang melihat sepenuhnya betapa eksistensi kekuatan-kekuatan asing ini tidak mendatangkan manfaat apapun bagi kawasan,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa pihak asing memanfaatkan eksistensinya itu untuk semata-mata memasarkan senjata dan menciptakan kondisi untuk bisa masuk ke pasar di kawasan ini serta mempermainkan harga minyak dan melicinkan tujuan-tujuan kejinya di sektor-sektor ini.

“Keberadaan mereka selamanya tidak akan mendatangkan kemaslahatan apapun bagi bangsa-bangsa regional, dan justru hanya menimbulkan banyak problema dan kesusahan,” tegasnya.

Presiden Iran melanjutkan bahwa setiap kali pejabat AS datang ke Timteng selalu disusul dengan kobaran api perang dan atau ketegangan di sebagian kawasan ini, dan akibat campurtangan kekuatan-kekuatan adidaya inilah terjadi perang besar di Afghnistan, Irak, dan Suriah.

Mengenai mundurnya Saad Hariri dari jabatan perdana menteri Lebanon, dia memastikan ada pihak lain (Saudi) yang campurtangan hingga batas memaksa Hariri mundur untuk digantikan dengan orang lain, suatu tindakan yang “sangat jarang terjadi sepanjang sejarah.”

Kepada Saudi Rouhani menyoal, “Apa hubungan kalian dengan masalah ini? Kekuatan apa yang kalian andalkan dalam berbuat demikian? Sejauh mana  harta dapat berpengaruh dalam bayangan kalian? “

Presiden Rouhani menilai Saudi “sangat memalukan” karena sebagai negara Islam malah meminta bantuan kepada Israel untuk menggempur bangsa Muslim Lebanon.

“Dalam sejarah kami belum pernah melihat adalah negara Islam melakukan tindakan sedemikian rupa, dan ini menunjukkan ketidak matangan orang-orang yang menjabat di sana,” kecamnya.

Dia kemudian memastikan bahwa Republik Islam Iran akan terus membela kaum tertindas.

“Kalian suka atau tidak, kami sebagai negara Republik Islam Iran telah dan akan terus menyokong bangsa-bangsa tertindas. Kami bergegas menyokong orang-orang tertindas, dan kami tidak bisa melihat para teroris menghancurkan tempat-tempat suci dan menyerang orang-orang tak berdosa, apalagi umat Islam,” tandasnya.

Terakhir dia menegaskan keharusan memperkuatan kekuatan nasional Iran yang mencakup aspek militer, demokrasi, politik, dan ekonomi. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL