Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa bangsa negara ini sama sekali tidak menggubris ancaman Amerika Serikat (AS). Senada dengan ini, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa ancaman AS terhadap Iran belakangan ini hanyalah bagian dari kebiasaan lama AS.

Pernyataan Rouhani dan Zarif ini merupakan tanggapan atas pernyataan Menlu AS Mike Pompeo bahwa AS akan menerapkan sanksi “terkeras dalam sejarah” terhadap Iran, dan bahwa Iran harus berhenti menyokong para pejuang Palestina dan tidak lagi menghendaki kebinasaan Israel.

“Iran sama sekali tidak mempedulikan ancaman AS… Era retorika yang diandalkan Pompeo sudah berlalu, dan (pemerintah) Iran akan terus melangkah di jalannya dengan dukungan rakyatnya,” tegas Presiden Iran.

Sedangkan Menlu Iran mengatakan bahwa diplomasi AS hanyalah pengulangan “kebiasaan lama yang ilusif”.

“Washington mengulangi opsi-opsi salah yang sama, dan akan mendapatkan dampak buruk yang sama… Teheran akan terus bekerjasama dengan para mitranya untuk solusi pasca (keluarnya) AS (dari perjanjian nuklir Iran),” lanjut Zarif.

Menlu Iran mengingatkan Eropa agar serius pada komitmennya terhadap Iran terlebih setelah Menlu Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa kesepakatan komprehensif seperti yang digambarkan oleh AS terlampau sulit dikemukakan dan tidak akan berhasil.

Para mantan pejabat AS sendiri juga mengatakan bahwa obsesi Pompe tidaklah realistis dan lebih menyerupai ilusi.

Pompeo dalam pernyataan mengenai pendirian Presiden AS Donald  Trump  mengenai Iran menyebutkan beberapa tuntutan terhadap Iran yang dapat disimpulkan dalam beberapa poin sebagai berikut;

Pertama, menghentikan proyek rudal balistik kemudian menghancurkan semua arsenalnya.

Kedua, menghentikan dukungan kepada”teroris”, yaitu kelompok-kelompok bersenjata semisal Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina, dan relawan al-Hashd al-Shaabi di Irak.

Ketiga, berhenti campur tangan dalam berbagai konflik Timteng. Ini berarti bahwa Iran harus mengabaikan isu Palestina, Lebanon, Suriah dan Irak.

Keempat, keluar sepenuhnya dari Suriah dan menyudahi eksistensi militernya di negara ini.

(mm/alalam/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*