Teheran, LiputanIslam.com –  Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa embargo yang diberlakukan  Barat terhadap Iran sejak awal ditujukan untuk membasmi revolusi Islam Iran dan memaksanya menyerah dalam perlawanan terhadap kubu arogan dunia.

Dalam pidato pada sebuah pertemuan di Teheran, Selasa (26/6/2018), dia memastikan bahwa Barat sejak awal menolak hasrat Iran meraih energi nuklir meskipun bertujuan damai, dan karena itu Amerika Serikat (AS) dan negara-negara pendukungnya berusaha memasukkan program nuklir Iran ke perkara keamanan.

Presiden Rouhani mengingatkan bahwa Dewan Keamanan PBB mengakui aktivitas nuklir Iran bertujuan damai, namun Barat malah menerapkan sanksi secara sewenang-wenang.

Dia menambahkan, “Iran berhadapan dengan bahaya hanya dari satu pihak, yaitu AS, namun berhasil meraih haknya dalam perdagangan internasional. Tekanan terhadap bangsa Iran selalu saja datang dari musuh yang direpresentasikan oleh kaum Zionis dan AS.”

Presiden Iran menjelaskan bahwa rencana yang dicanangkan AS ialah memaksa Iran keluar dari perjanjian.

“AS selalu berusaha mengaitkan isu nuklir Iran dengan isu keamanan. Karena itu AS juga berusaha mengesankan bahwaIran tidak konsistensi kepada perjanjian nuklirnya, namun AS gagal meyakinkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dengan klaim-klaimnya. Karena itu Eropa dan negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran menentang keluarnya AS dari perjanjian nuklir,” terangnya.

Rouhani kemudian menegaskan bahwa AS tidak akan pernah berhasil mematahkan tekad bangsa Iran.

“Bangsa ini telah membuktikan keteguhannya kepada kemerdekaan, kebebasan, dan revolusi Islamnya,” ujarnya. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*