relawan irak al-hasyd al-sakbiBaghdad, LiputanIslam.com –  Para pejuang Islam Syiah yang tergabung dalam kelompok relawan al-Hashd al-Shaabi mengalir ke distrik al-Nakhib, 350 km barat daya Ramadi, ibu kota Anbar, dekat perbatasan Arab Saudi menyusul pendudukan ISIS atas Ramadi. Demikian dilaporkanckantor berita Turki Anatolia sembari menyebutkan bahwa perkembangan yang terjadi di distrik yang penduduknya bermazhab Islam Sunni itu telah menimbulkan keresahan pemerintah Riyadh.

Menurut Anatolia, distrik itu berjarak 80 km dari perbatasan Saudi dan pemerintah Riyadh  khawatir terhadap kemungkinan bahwa keberadaan relawan Syiah Irak di dekat perbatasan Saudi itu merupakan agenda Iran untuk menekan Saudi yang masih gencar menggelar serangan udara terhadap Yaman.

Pasukan al-Hashd al-Shaabi yang didukung Iran itu sebelumnya juga pernah mendatangi lokasi itu namun ditarik lagi karena mereka saat itu datang tanpa koordinasi dengan pemerintah Baghdad sehingga menimbulkan kekhawatiran para pejabat dan penduduk Sunni setempat.
Namun kali ini kedatangan relawan Syiah itu disambut baik oleh para pejabat setempat yang sedang ketakutan terhadap kemungkinan adanya serangan pasukan ISIS di kawasan tersebut.

Kepala distrik al-Nakhib Ihab al-Isawi kepada Anatolia menyatakan pihaknya menyambut gembira kedatangan relawan itu untuk andil dalam operasi pembebasan Anbar dari keberadaan teroris takfiri ISIS.

“Ketika al-Hasyd al-Syakbi beberapa waktu lalu datang ke al-Nakhib kami sempat mengingatkan bahaya langkah ini. Saat itu kami berkeyakinan bahwa mereka datang untuk menduduki kawasan ini dan menggabungkannya secara geografis ke Karbala agar distrik ini bisa menjadi perisai bagi Syiah di Karbala. Tapi dalam beberapa hari terakhir ini mereka telah membuktikan  bahwa al-Hashd al-Shaabi adalah perisai bagi Irak secara keseluruhan, bukan hanya bagi Syiah,” papar al-Isawi.

Dia juga mengatakan bahwa penduduk Sunni setempat juga akan bergabung dalam al-Hashd al-Shaabi untuk memerangi ISIS, “sebab al-Hashd al-Shaabi ternyata memang tidak merepresentasikan Syiah saja, melainkan seluruh elemen Irak.”

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Ahmad al-Hadzal, salah satu pemuka suku-suku Sunni Irak, kepada Anatolia. Menurutnya, penduduk Sunni setempat kini yakin dapat melawan ISIS setelah al-Hashd al-Shaabi datang membantu mereka.

Al-Hadzal menambahkan, “Semula penduduk menolak kedatangan para petempur Syiah dengan alasan tentara Irak sudah tersebar di sana. Tapi naif, ketika ISIS bergerak maju tentara Irak ternyata malah kabur meninggalkan celah yang kini diisi oleh al-Hashd al-Shaabi.”
Dia optimis al-Hashd al-Shaabi akan dapat mengalahkan ISIS di Ramadi.

“Sebab relawan itu sangat loyal kepada para marji’ (ulama panutan) yang telah menyeru mereka supaya berjihad melawan ISIS, sedangkan tentara menjalankan tugasnya lebih karena gaji bulanan,” katanya.

Sementara itu, laporan lain menyebutkan bahwa seorang komandan senior al-Hashd al-Shaabi, Karim al-Nouri, Kamis kemarin bersumpah untuk mengalahkan ISIS.

“Kami akan jadikan sahara-sahara Anbar sebagai kuburan bagi ISIS,” tegas jubir Sekjen Organisasi Badar, Hadi al-Amiri, itu kepada kantor berita Iran, IRNA.  Organisasi Badar adalah salah satu elemen yang terlibat dalam al-Hashd al-Shaabi.

Dia menambahkan bahwa rancangan operasi pembersihan Anbar dan pembebasan Ramadi sudah dibuat dan mulai dijalankan, namun sejauh ini masih berlangsung berbagai persiapan logistik bagi operasi anti ISIS.

“Hitungan jam mundur sudah dekat, dan tidak lama lagi semua orang akan melihat bagaimana akhir cerita ISIS di Anbar,” sumbarnya.

Seperti diketahui, Ramadi jatuh ke tangan ISIS sejak Ahad lalu (17/5). Banyak kalangan di Irak menganggap peristiwa ini tak lepas dari permainan Amerika Serikat (AS) karena selama ini masalah perang melawan ISIS di provinsi Anbar yang mayoritas penduduknya bermazhab Sunni banyak diurus oleh AS, sedangkan al-Hashd al-Shaabi selalu dihalangi keterlibatannya dalam perang itu dengan dalih khawatir terjadi konflik sektarian.

Sekarang banyak kalangan Sunni mulai membuka mata dan mengakui bahwa kelompok relawan besar yang didukung dan konon juga dilatih oleh Iran itu berjuang demi kepentingan seluruh bangsa Irak tanpa membedakan agama, dan apalagi mazhabnya dalam Islam, sesuai seruan jihad para ulama besar panutan mereka. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL