بالصور؛ الآلاف يواصلون الاعتصام امام منزل الشيخ عيسى قاسمLondon, LiputanIslam.com – Eskalasi aksi penindasan rezim al-Khalifa yang berkuasa di Bahrain terhadap umat Islam Syiah yang merupakan mayoritas penduduk negara ini membuat situasi kawasan Teluk Persia memanas dan mengundang perhatian dunia.

Koran Financial Times, Rabu (22/6), mengangkat tema “Penindasan Bahrain Sulut Kobaran Sektarianisme” dan menyerukan kepada Inggris dan Amerika Serikat (AS) supaya menindak tegas rezim Bahrain, termasuk dengan menerapkan boikot senjata.

Tema ini diangkat menyusul serangkaian perkembangan buruk di Bahrain berupa meningkatnya represi terhadap oposisi, penghentian paksa aktivitas kelompok-kelompok oposisi, termasuk al-Wifaq yang Sekjennya, Syeikh Ali Salman, telah dijebloskan ke dalam penjara, dan penangkapan kembali aktivis Nabil Rajab. Kondisi ini bahkan membuat aktivis lain, Zainab al-Khawajah dan puterinya yang masih kecil terpaksa pindah ke Eropa segera setelah dia keluar dari penjara.

Tindakan paling fatal yang belakangan ini dilakukan oleh rezim Bahrain ialah pencabutan kewarnegaraan Ayatullah Syeikh Isa Qassim sehingga ulama besar Muslim Syiah ini menempati urutan ke 250 orang yang kewarganegaraannya dicabut dalam tiga tahun terakhir. Tindakan ini tak pelak mengundang kecaman dari khalayak regional dan dunia karena nyata-nyata melanggar HAM.

Kecaman terkeras dikemukakan oleh para petinggi Iran, termasuk Komandan Pasukan al-Quds IRGC Jenderal Qasem Soleimani dan ketua parlemen Iran Ali Larijani. Pernyataan Soleimani bahkan membuat panas telinga para penguasa Arab Teluk Persia, terutama Arab Saudi, karena Soleimani mengingatkan bahwa tindakan rezim Bahrain itu dapat menimbulkan gerakan bersenjata dan aksi berdarah serta membangkitkan revolusi di negara ini. Rezim Arab Saudi menyebut pernyataan Soleimani itu provokotif dan berbau campurtangan terhadap urusan Bahrain.

Mengomentari sikap Saudi itu situs Rai al-Youm menyatakan sepakat dengan anggapan bahwa pernyataan Iran itu provokatif. Hanya saja, lanjut Rai al-Youm, semua orang tentu mengetahui bahwa Saudi dan sekutunya adalah pihak yang melancarkan intervensi militer selama lebih dari 15 bulan di Yaman hingga menewaskan banyak warga sipil dan menghancurkan fasilitas infrastruktur, dan karena itu mereka adalah pihak yang paling bersimbah dosa campurtangan urusan negara lain.

Bahrainpun, lanjut Rai al-Youm, sebagai anggota pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menggempur Yaman praktis juga terlibat dalam aksi campurtangan dan intervensi militer di Yaman. Karena itu, jika Iran sekarang baru sebatas ancaman lisan, rezim-rezim Arab itu justru sudah lama berpesta darah di Yaman.
Sementara itu, ribuan massa Bahrain sejak Senin lalu hingga Jumat masih terus berkonsentrasi di sekitar rumah Syeikh Isa Qassim untuk menandai simpati dan solidaritas mereka kepadanya serta kutukan mereka terhadap rezim Bahrain.

Syeikh Majid al-Mash’al, ketua Majelis Ulama Bahrain yang telah dibubarkan oleh rezim Bahrain, mengingatkan agar rezim monarki ini tidak mencoba membubarkan massa yang berkonsentrasi tersebut.pendukung syeikh isa qassim bahrain3

“Kami tidak menantang, tapi kami pantang hina. Kami telah belajar dari pemimpin kami (Syeikh Isa Qassim) bahwa raga dan jiwa kami adalah tebusan bagi agama dan kehormatan kami,” tegasnya.

Dia mengingatkan, “Jika konsentrasi massa ini diserang maka nyawa dan darah akan murah. Kami mengetahui bahwa kalian (rezim Bahrain) memiliki kekuatan untuk membunuh dan menyerang. Tapi setelah itu apa? Apakah kalian ingin menjadi penguasa penumpah darah? Rakyat siap mempersembahkan segalanya demi keberadaan pemimpinnya.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL