Situasi di Gaza

Situasi di Gaza

GazaCity, LiputanIslam.com – Menteri Perumahan dan Pekerjaan Umum Gaza, Palestina, Mufeed al-Hasayinah, Rabu (22/7), secara simbolik telah meresmikan dimulainya rekonstruksi wilayah Jalur Gaza, Palestina, yang porak poranda akibat agresi militer Israel secara besar-besaran pada tahun lalu.

Menurut laporan AFP, akibat serangan militer Zionis yang berlangsung selama 50 hari pada musim panas Juli hingga Agustus 2014 itu, sedikitnya 2.200 orang Palestina terbunuh dan puluhan ribu unit rumah rusak dan bahkan banyak di antaranya hancur total.

Meski serangan itu sudah berlalu satu tahun, hingga kini baru beberapa unit rumah saja yang sudah dibenahi, dan masih ada sebanyak 18.000 unit rumah yang masih terlihat sebagai tumpukan puing-puing reruntuhan yang mengenaskan.

Para pejabat Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, di Gaza menyatakan rekonstruksi Gaza terhambat terutama oleh blokade Israel terhadap Gaza yang sudah berlangsung selama sembilan tahun serta minimnya dukungan dana internasional.

Dalam peresmian, Al-Hasayinah menandai dimulainya rekonstruksi dengan meletakkan batu pertama untuk pembangunan rumah keluarga al-Hararah di kawasan al-Shejaiyah di bagian timur kota Gaza.

“Operasi rekonstruksi Gaza yang sesungguhnya telah dimulai, dan tak akan ada kendala apapun yang dapat menghentikannya,” katanya.
Al-Shejaiyyah termasuk kawasan yang paling parah kerusakannya akibat gempuran pasukan Zionis Israel.
“Di masa mendatang kita akan menyaksikan banyak gerakan untuk rekonstruksi Gaza, dan semua rumah yang dihancurkan oleh Israel akan dibangun kembali,” lanjutnya.

Meski demikian, rekonstruksi Jalur Gaza yang dihuni oleh 1,8 juta penduduk dan sudah tiga kali diserang Israel selama enam tahun terakhir ini diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun.

Lembaga Pertolongan dan Kerja PBB (UNRWA) menyatakan sejauh ini baru menerima bantuan dana yang hanya cukup untuk rekonstruksi 200 dari total 7,000 unit yang harus dikerjakan oleh lembaga ini.

Israel mengendalikan dua pintu atau jalur masuknya material dan tenaga manusia ke Jalur Gaza, sedangkan Mesir mengendalikan tiga jalur. Israel mengaku bahwa sejak Oktober tahun lalu telah mengizinkan masuknya lebih dari 1,1 juta ton material bangunan melalui pintu perbatasan Karem Shalom. Sedangkan Mesir pada Juli lalu mengaku sudah mengizinkan masuknya semen ke Gaza melalui pintu berbatasan Rafah.

Para pemrotes blokade Gaza oleh Israel mengingatkan resiko krisis kemanusiaan di Gaza serta menuntut pencabutan secara total blokade itu demi mempercepat proses rekonstruksi.

Badan Energi Jalur Gaza menyatakan stasiun pembangkit listrik Palestina tidak beroperasi akibat adanya perselisihan mengenai suplai bahan bakar dan masalah perpajakannya antara pemerintah otonomi Palestina yang berkedudukan di Tepi Barat dan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza, padahal stasiun ini merupakan satu-satunya sumber suplai listrik di Jalur Gaza.

Menurut Badan Energi Jalur Gaza, stasiun itu terhenti akibat pemaksaan pajak atas bahan bakar oleh kementerian keuangan pemerintah otonomi di Ramallah. Dalam statemennya badan ini menyatakan pemerintah otonomi seharusnya menghapus semua pajak yang pernah ditetapkan sebelumnya.

Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, apalagi ketika stasiun itu beroperasi secara penuhpun penduduk Gaza ternyata masih mengalami pemutusan aliran listrik selama 12 jam perhari.

Agresi Israel ke Jalur Gaza juga telah menyebabkan sekitar 100,000 orang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa hidup sebagai pengungsi sambil menyaksikan kenyataan betapa rekonstruksi sepenuh tak jua dimulai meski sudah satu tahun Perang Gaza berakhir. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL