pilpres suriahDamaskus, LiputanIslam.com – Rakyat Suriah hari ini Selasa (3/6/2014) menorehkan sejarah bagi negeri dan tanah airnya di tengah situasi krisis akibat gejolak pemberontakan dan badai radikalisme.

Sesuai jadwal, hari ini mereka mendatangi tempat-tempat pemungutan suara untuk menyukseskan pemilu presiden yang menyajikan dua opsi, melengserkan Presiden Incumbent Bashar al-Assad atau tetap memilihnya sebagai pemimpin Suriah.

TV al-Mayadeen melaporkan bahwa rakyat Suriah di berbagai lokasi sejak pagi sudah membanjiri tempat-tempat pemungutan suara yang dibuka sejak pukul 07.00 waktu setempat. Tempat pemungutan suara diadakan di 9,601 lokasi yang tersebar di berbagai pelosok negara ini.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Suriah mengumumkan bahwa pemungutan suara akan berakhir pada pukul 19.00 waktu setempat, namun jika masih banyak masyarakat yang suaranya belum tertampung maka waktu pemungutan suara dapat diperjanjang hingga lima jam lagi.

Kemendagri Suriah juga menyatakan bahwa jumlah penduduk Suriah yang memiliki hak pilih terdata sebanyak 15,845,575 orang. Penduduk yang dinyatakan berhak pilih harus berusia 18 tahun ke atas. Disebutkan pula bahwa tempat pemungutan suara mencapai 9,601 lokasi yang meliputi 11,776 kotak suara.

Di tengah gejolak pemberontakan dan kekerasan yang masih terjadi di beberapa daerah, terlihat bahwa harapan terbesar rakyat Suriah dari hasil pemilu adalah pulihnya stabilitas dan keamanan.

“Harapan kami tertuju pada keamanan dan stabilitas,” ujar Hussam al-Din al-Aws, seorang guru sekolah yang menjadi orang pertama yang melakukan pencoblosan di sebuah sekolah menengah di Damaskus, ibu kota Suriah.

Banyak kalangan menduga bahwa Bashar al-Assad yang bersaing dengan dua kandidat lain akan terpilih kembali. Dua saingannya adalah Maher al-Hajjar, anggota parlemen Suriah dari Partai Komunis, dan Hassan al-Nuri, seorang pengusaha dan mantan anggota parlemen.

Tanggal 28 Mei lalu, warga Suriah yang tinggal di luar negeri telah memberikan suara dengan mendatangi tempat pemungutan suara yang diadakan gedung-gedung Kedutaan Besar Suriah di berbagai negara termasuk Venezuela, Belarusia, Rusia, Republik Ceko, Sudan, Lebanon, Iran, Yaman, Oman, India, Malaysia dan Indonesia. Dilaporkan bahwa rakyat Suriah yang mengikuti pemilu di luar negeri mencapai 95 persen.

Sebagai negara yang memiliki banyak musuh karena resisten terhadap Barat dan para sekutunya di Timur Tengah, banyak kalangan mencibir pemilu Suriah dan menyangsikan keabsahannya.

Kelompok-kelompok pemberontak bersenjata menyebutnya “pemilu berdarah”, AS dan Barat menyebutnya “lelucon”, sedangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai pemilu yang berlangsung di saat suasana Suriah masih dilanda gejolak itu tidak akan dapat memberikan solusi politik yang memadai bagi krisis yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun tersebut. (mm/fna/presstv/dw/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL