jordania abdullah IIAmman, LiputanIslam.com – Raja Abdullah II dari Yordania menyebut gerombolan teroris besar Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAESH) sebagai kaum Khawarij masa kini. Kaum Khawarij adalah kelompok puritan yang muncul di tengah umat Islam di masa kekhalifahan Ali bin Thalib kw dengan kecenderungan yang sangat ekstrim serta mengafirkan dan menghalalkan darah kelompok-kelompok lain yang tak sependapat dengan mereka.

“Kami dalam Islam memiliki persepsi yang sama dan menyebut mereka (ISIS) sebagai Khawarij. Mereka mengancam poros agama kami (Islam),” kata Raja Abdullah dalam wawancara dengan TV EuroNews, di Amman, Yordania, Kamis (12/11) sebagaimana dilansir IRNA, ketika ditanya perihal mekanisme penumpasan kelompok-kelompok radikal dan ekstrim semisal ISIS.
Dia menambahkan, “Ini merupakan problema kami dengan barat. Kami sudah berulang kali ditanya, ‘Apakah Anda seorang Muslim moderat atau Muslim radikal?’ Jawaban saya, ‘Tidak, saya seorang Muslim, sedangkan orang-orang ini (ISIS) adalah Khawarij.”

Kata “khawarij” sendiri berarti orang-orang yang keluar, untuk menyebut kaum itu sebagai kaum yang sudah keluar dari Islam. Khalifah Ali bin Abi Thalib kw pernah menegaskan bahwa kaum Khawarij telah keluar dari Islam laksana anak panah yang melesat dari busurnya.

Raja Abdullah II menambahkan, “Saya kira problemanya ada dalam persepsi orang-orang Barat yang telah menciptakan sebentuk ketakutan… Kami semua mengeluhkan penyetaraan kelompok-kelompok (ekstrimis) ini dengan orang-orang lain yang seagama dengan mereka. Padahal kalau kita meninjau lagi sejarah Islam, terlihat bahwa Khawarij tidak mungkin akan bertahan lama. Begitu masyarakat (Islam) mengetahui siapa mereka maka mereka akan hancur dalam sekejap mata.”

Mengenai krisis Suriah, Raja Abdullah II mengimbau semua negara berusaha menyatukan persepsi, berkumpul dan saling membantu.

Dia tidak mengecam keterlibatan Rusia dalam penanganan krisis di Suriah. Dia bahkan menilainya sebagai kunci untuk menyudahi “Perang Dunia III dalam pengertian lain,” serta momentum untuk menggalang koordinasi dalam perang melawan teroris.

“Sayangnya, ada ketidak percayaan antara Timur dan Barat. Perselisihan ini harus ditangani untuk mengatasi Perang Dunia III ini,” katanya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL