Doha, ibu kota Qatar

London, LiputanIslam.com – Media sosial Arab diwarnai kontroversi mengenai dugaan keberadaan anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Qatar sehingga Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Lulwa Al-Khater melontarkan pernyataan yang mengejek ketika ditanya mengenai tuntutan negara-negara pemboikot Qatar agar pemerintah Doha mengusir IRGC.

Al-Khater balik menyoal, “Apakah mungkin beberapa pangkalan AS dapat bertemu dengan IRGC?”

Kepada The Washington Times dia menambahkan, “Silakan membayangkan adanya pangkalan militer itu dan IRGC … Apakah itu mungkin?”

Juru bicara itu mengakui negara menjalin hubungan dengan Iran, dan negaranya bergantung pada Iran untuk mengimpor makanan demi meringankan dampak boikot Saudi dan beberapa negara sekutunya terhadap Qatar.

The Washington Times menyebutkan beberapa hal, yaitu; Qatar berbagi dengan Iran dalam kepemilikan ladang gas alam Pars Selatan yang terletak di perairan Teluk Persia; banyak sekutu AS, termasuk Jepang, India dan Inggris bergantung pada gas dari ladang ini; dan Uni Emirat Arab (UEA) meskipun bersekutu dengan Saudi dalam krisis Teluk ternyata masih membeli energi dalam jumlah besar dari Qatar.

Pada 5 Juni 2017, Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar dengan dalih bahwa Doha mendukung terorisme. Doha membantah dalih itu sembari balik menuduh empat negara itu berusaha memaksakan perwaliannya atas keputusan nasionalnya.

Keempat negara itu mengajukan daftar 13 tuntutan terhadap Qatar, termasuk mengurangi taraf perwakilan diplomatik dan membatasi hubungan dagangnya dengan Iran, dan tidak menempatkan IRGC di wilayah Qatar. Namun Qatar menolak tuntutan itu dengan menegaskan bahwa sebagian di antara empat negara itu sendiri justru menikmati hubungan yang sama dengan Iran. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*