prosesi pemakan korban demo YamanSanaa, LiputanIslam.com – Sanaa, ibu kota Yaman, kembali diwarnai demonstrasi akbar yang melibatkan puluhan ribu massa pendukung gerakan Ansrallah atau kelompok al-Houthi, Jumat (26/9). Namun demikian, sebagaimana dilaporkan Alalam, demonstrasi kali ini bukan dalam rangka protes, melainkan sebagai perayaan atas apa yang mereka sebut “kemenangan aspirasi rakyat” dan “partisipasi nasional antara pemerintah dan kubu oposisi pimpinan Ansarallah” pasca penandatangan perjanjian damai antara kedua belah pihak.

Massa yang merupakan penduduk Sanaa sendiri mengapresiasi milisi Ansarallah karena telah menggalang keamanan di ibu kota. Mereka juga menegaskan urgensi penerapan semua isi kesepakatan dan pemenuhan segala yang menjadi aspirasi rakyat.
Perayaan atas kesepakatan damai digelar tidak hanya di Sanaa, melainkan juga di berbagai provinsi lain di Yaman.

Pemandangan unjuk rasa mirip dengan pemandangan demonstrasi-demonstrasi pra perjanjian damai. Bedanya, kali ini wajah para pengunjuk rasa terlihat bersuka ria dan menyebut hari itu sebagai “Jumat Kemenangan” aspirasi rakyat yang ditandai dengan penandatangan perjanjian damai semua kubu politik yang berselisih.

Para pengunjuk rasa di jalan sekitar Bandara Sanaa mengatakan demonstrasi ini juga sekaligus perayaan atas kemenangan “pasukan rakyat di bawah komando gerakan Ansrallah dalam konfrontasi” serta jatuhnya beberapa hal yang mereka pandang sebagai simbol dan sisa-sisa kekuatan pemerintahan diktator sebelumnya.

Unjuk rasa kali ini juga diwarnai dengan prosesi pemakaman jenazah beberapa korban represi aparat keamanan terhadap massa demonstran yang terjadi sebelum penandatanganan perjanjian. Para peserta proses mengatakan darah para korban tidak mengalir sia-sia. Yel-yel juga berkumandang sahut menyahut menyatakan bahwa unjuk rasa akan terus berlanjut demi menjamin kesuksesan dan penerapan semua isi kesepakatan.

“Jika sampai ada selubung terhadap kesepakatan maka akan ada pula revolusi sengit yang akan menyapu habis para koruptor yang tersisa,” tegas salah satu petinggi Ansarullah, Ahmad al-Junaidi, kepada Alalam.

Panitia penyelenggara unjuk rasa menyatakan akan membentuk “komite lapangan” untuk mengawal proses pelaksanaan kesepakatan.
Sementara itu, menurut Alalam, perundingan masih terus berlanjut antara semua pihak terkait di tengah situasi suram menyangkut probabilitas pelaksanaan semua isi perjanjian. Kesuraman ini antara lain ditandai dengan tertundanya penunjukan perdana menteri baru, padahal sudah lewat waktu dua hari dari jangka waktu yang sudah ditetapkan dalam perjanjian.

Seperti pernah diberitakan, perdana menteri Yaman sebelumnya, Mohammed Salem Basindwa, memilih mundur menyusul memuncaknya gejolak aksi protes, keberhasilan gerakan Ansarullah menduduki gedung perdana menteri dan banyaknya pejabat dan pegawai pemerintah yang akhirnya menyatakan dukungannya kepada unjuk rasa yang dimotori oleh kelompok Syiah al-Houthi itu. Peristiwa ini kemudian disusul dengan penandatanganan perjanjian antara pemerintah dan Ansarullah untuk meredakan konfrontasi. (Baca juga: Perdana Menteri Yaman Mundur, Presiden dan Gerakan Ansarullah Teken Perjanjian)

Artikel mengenai fenomena gerakan Ansarullah atau kelompok al-Houthi di Yaman bisa disimak di link di bawah ini:

Rekam Jejak Kelompok al-Houthi di Yaman (Bagian 1/2)

Rekam Jejak Kelompok al-Houthi di Yaman (Bagian 2/2)

(mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL