mesir-irakKairo, LiputanIslam.com – Perdana Menteri (PM) Mesir Ibrahim Mahlab dan PM Irak Heider Abadi dalam jumpa pers bersama di Kairo, ibu kota Mesir, Ahad (11/1/2015) menegaskan keharusan mempererat persatuan Islam Sunni dan Syiah.

Sebagaimana dilaporkan IRNA, keduanya juga menegaskan perlunya kerjasama antara Universitas al-Azhar dan sekolah agama (hauzah ilmiyyah) di kota Najaf Irak untuk menggalang persatuan Sunni dan Syiah.

Jumpa pers bersama itu digelar setelah PM Irak mengadakan pertemuan dengan Presiden Mesir Aldel Fattah al-Sisi.

“Perlu kerjasama antara al-Azhar dan Najaf al-Asyraf,” ujar Mahlab.

Di pihak lain, Abadi menyatakan bahwa sebagaimana hal Irak, Mesir juga sedang didera oleh terorisme. Dia juga mengaku akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayyip untuk membicarakan soal kerjasama al-Azar dan Najaf.

“Mesir dan Irak harus bekerjasama di berbagai bidang, termasuk militer dan informasi,” katanya.

Dia juga mengundang sejawatnya di Mesir supaya berkunjung ke Baghdad.

Tema pendekatan Sunni-Syiah juga dibicarakan dalam pertemuan Abadi dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Sebagaimana dilaporkan Ahram Online, kedua pihak sepakat supaya Sunni dan Syiah mengambil “langkah nyata” untuk mengurangi tensi sektarianisme di Timur Tengah.

Dalam statemennya, kantor kepresidenan Mesir menyatakan bahwa al-Sisi dan Abadi sama-sama menegaskan keharusan kedua pihak mengubah retorika keagamaan.

Menurut juru bicara Kepresidenan Mesir Alaa Yousef, al-Sisi mengapresiasi upaya keras Abadi untuk membentengi persatuan rakyat Irak, dan Kairo juga telah berulang kali menyerukan persatuan Irak sejak kelompok teroris sektarian Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menguasai banyak kawasan di Irak dan Suriah.

Sementara itu, guru besar ilmu syariat Islam Universitas al-Azhar Syeikh Ahmad Karimah mengaku prihatin karena menurutnya perselisihan antara Sunni dan Syiah seakan lebih besar dibanding perselisihan antara Islam dan Barat.

“Betapa tidak, orang Israel diperbolehkan datang ke Mesir, sedangkan seorang Muslim Iran tidak diperkenankan,” keluhnya, sebagaimana dikutip situs berita Rai al-Youm.

Mengenai maraknya Islamfobia di Barat, Syeikh Karimah melirik Wahabisme.

“Sebabnya adalah orang-orang Islam Arab sendiri… Kalangan ‘mutasallifah’ adalah biang semua petaka. Merekalah yang memorak porandakan barisan umat Islam dengan fatwa-fatwa mereka,” tegasnya. Mutasallifah adalah kalangan yang mengatas namakan para salafussaleh, yaitu kalangan yang menamakan dirinya Salafi atau yang juga lazim disebut Wahabisme.

Dia menilai al-Azhar di masa al-Tayyip sekarang cenderung takut kepada Syiah sehingga jauh berbeda dengan al-Azhar di zaman rektor Syeikh Mahmoud Shaltut yang wafat pada tahun 1963.

Terakhir dia menyerukan supaya para alim ulama Sunni dan Syiah melakukan dialog intensif, serius dan terjauh dari gempita media demi memulihkan barisan umat Islam. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*