Rimbo, LiputanIslam.com – Kelompok Ansarullah Yaman menyatakan pihaknya siap berpartisipasi dalam perundingan babak selanjutnya jika perundingan sekarang yang disponsori PBB di Rimbo, Swedia, mengalami kemajuan, sementara sumber PBB menyatakan bahwa masalah terpelik dalam perundingan ini terkait dengan pelabuhan Hudaydah.

“Jika kami keluar dari perundingan ini dengan menghasilkan langkah-langkah maju untuk membangunan kepercayaan, maka kita dapat mengadakan perundingan babak selanjutnya,” ujar Mohammad Abdul Salam, anggota delegasi Ansarullah dalam perundingan damai di Swedia, Ahad (9/12/2018).

Dia kemudian menyerukan pembukaan kembali bandara internasional di Sanaa, ibu kota Yaman, agar delegasi Ansarullah dapat leluasa bepergian ke luar negeri.

Delegasi Ansarullah dan delegasi mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi hingga kini masih terlibat perundingan di Swedia demi mengupayakan penyelesaian atas perang Yaman yang telah menewaskan lebih 10 ribu orang dan menyebabkan 14 juta orang terancam kelaparan. Perundingan ini dimulai pada Kamis pekan lalu dan diperkirakan akan berlangsung sampai satu minggu.

Sementara itu, sumber PBB menyatakan bahwa status kota Hudaydah beserta pelabuhannya di Laut Merah merupakan persoalan yang paling pelik dalam perundingan damai di Swedia.

Kota ini dikuasai oleh Ansarullah, sementara pelabuhannya merupakan pintu masuk utama bagi 90% bantuan bahan makanan untuk para korban perang Yaman.

Ansarullah menguasai kota ini bersamaan dengan keberhasilannya menguasai berbagai wilayah negara ini pada tahun 2014, namun pasukan koalisi pimpinan Saudi memblokirnya dan mengontrol secara ketat bantuan kemanusiaan yang masuk ke Yaman melalui pelabuhan ini.

Pihak Mansour Hadi menuntut Ansarullah keluar secara total dari Hudaydah, namun Ansarullah bersikukuh untuk tetap bertahan di sana dan terus melawan pasukan loyalis Hadi yang dibantu pasukan koalisi. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*