Sochi, LiputanIslam.com –   Ketua delegasi pemerintah Damaskus dalam perundingan Astana untuk rekonsialiasi Suriah, Bashar Jaafari, menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya harus keluar dari Suriah, apalagi kawanan teroris yang telah melancarkan serangan dan aksi brutal di Suwayda diketahui datang dari kawasan Tanf yang dikuasai oleh pasukan AS.

Mengenai perundingan Astana babak ke-10 di kota Sochi, Rusia, Jaafari menilainya sukses dan menghasilkan beberapa gagasan penting, terutama terkait dengan pemulangan pengungsi/imigran Suriah.

Dia menjelaskan bahwa kendala utama pemulangan imigran Suriah ialah tindakan-tindakan sepihak AS dan Uni Eropa, dan karena itu Damaskus kembali mendesak supaya tindakan demikian segera diakhiri.

Dia menambahkan bahwa Damaskus juga sangat memotivasi upaya rekonsiliasi lokal, namun rekonsiliasi ini tidak akan pernah mencakup kelompok-kelompok yang oleh Badan Keamanan Suriah telah dicantumkan dalam daftar organisasi teroris, dan jika Idlib kembali ke tangan pemerintah melalui rekonsiliasi ini maka ini “bagus”, sementara jika ini tidak tercapai maka tentara Suriah bagaimanapun juga berhak merebutnya kembali melalui operasi militer.

Mengenai Turki, Jaafari yang juga merupakan Dubes Suriah untuk PBB menyatakan negara jirannya di utara ini tidak menghargai komitmennya di Astana mengenai zona de-eskalasi di provinsi Idlib. Dalam hal ini Turki malah mengirim pasukan bersenjata berat ke sana lalu menduduki kota Afrin dan mengusir warga setempat, sementara keberadaan kelompok teroris Jabhat al-Nusra di sana juga menjadi ujian bagi kejujuran Turki dalam menerapkan kesepakatan Astana dan ketentuan internasional.

Menurut Jaafari, Turki tidak hanya melakukan pendudukan di Suriah melainkan juga melanggar undang-undang internasional antara lain mengubah status beberapa kawasan yang didudukinya dari Suriah ke Turki, dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rezim Zionis Israel atas Dataran Tinggi Golan.  Turki juga membangun kota industri di Jarabulus sehingga makin memperlihatkan kemunafikannya ketika di Astana mengaku menghormati kedaulatan Suriah.

Mengenai Israel dia mengatakan bahwa agresi Rezim Zionis ini di Suriah selatan tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Turki Suriah utara, dan belakangan ini terbukti secara gamblang tindakan Israel dan negara-negara Barat melindungi kawanan teroris setelah negara-negara ini melarikan kelompok Helm Putih (White Helmets) melalui Israel ke Yordania untuk kemudian ke negara-negara Barat.

Mengenai AS dia menyebutkan bahwa kawanan teroris yang telah menyerang dan melakukan pembantaian massal di Suwayda datang dari kawasan Tanf yang ditempati oleh pasukan AS. Karena itu dia menegaskan bahwa pasukan AS dan sekutunya memang harus keluar dari Suriah, terlebih ketika eksistensinya di Suriah memang ilegal.

Terakhir, Bashar Jaafari memastikan bahwa tentara Suriah akan terus melanjutkan operasi militernya untuk menumpas seluruh teroris yang bercokol di Suriah dan tidak akan membiarkan pula keberadaan pasukan agresor asing di Suriah. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*