Dubai, LiputanIslam.com –  Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar di dunia, tampak siap menutupi kekurangan dalam suplai minyak yang terjadi akibat sanksi AS terhadap Iran, meskipun pasar minyak mentah secara umum masih belum stabil. Demikian dikatakan oleh para pengamat.

AS yang sudah enam bulan keluar dari perjanjian nuklir Iran menerapkan gelombang kedua sanksinya terhadap Iran sejak Senin (5/11/2018). Dengan sanksi ini AS melarang negara ataupun perusahaan asing masuk ke pasar AS jika masih tetap mengekspor minyak Iran atau masih menjalin hubungan dengan bank-bank Iran. Namun, belakangan AS mengumumkan ada delapan negara yang dikecualikan untuk sementara waktu dari sanksi ini.

AS kembali menerapkan saksinya terhadap Iran ketika negara-negara produsen minyak mengalami fluktuasi yang berdampak negatif pada suplainya, sementara Trump berusaha mencegah kenaikan harga.

Para pemerhati memperkirakan ekspor minyak Iran sekira 2,5 juta barel per hari akan surut menjadi sekira 1-2 juta barel per hari ketika sanksi itu mulai diterapkan.  Kondisi ini bisa jadi akan memperparah tekanan yang terjadi pada pasar minyak sejak beberapa tahun lalu.

Instabilitas di Libya, Venezuela, Nigeria, Meksiko, Angola, dan beberapa negara lain memaksa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara-negara pengekspor lain untuk mempertimbangkan kembali perjanjian pengurangan produksi pada Juni lalu.

Badan Energi Internasional dalam laporannya pada September lalu menyebutkan bahwa pasar minyak memasuki “tahapan sulit”, dan “berbagai persoalanpun menjadi semakin rumit.” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*