Teheran, LiputanIslam.com –  Jubir Kemlu Iran Behram Qassemi menyatakan bahwa kesepakatan yang dinyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai gencatan senjata di barat daya Suriah bukanlah perjanjian yang mengikat Iran.

Sesuai perjanjiian segi Rusia, AS dan Yordania tersebut gencatan senjata diterapkan antara pasukan pemerintah dan gerilyawan pemberontak Suriah di provinsi Daraa, Quneitra dan Suwaida di bagian barat daya Suriah sejak Minggu (10/7/2017).

Dalam jumpa pers di Teheran, Senin (11/7/2017), Ghasemi menegaskan negaranya tidak ikut menjamin pelaksanaan perjanjian tersebut dan akan terus berkomunikasi dengan Moskow sesuai nota-nota kesepahaman yang telah dicapai dalam perundingan demi perundingan mengenai krisis Suriah di Astana, ibu kota Kazakhstan.

Rusia, Iran dan Turki selaku segi tiga penjamin gencatan senjata di sebagian wilayah Suriah yang berjalan sejak awal tahun ini pada 4 Mei lalu menyepakati pengadaan “kawasan de-eskalasi” di mana pasukan ketiga negara ini disebar untuk menjaga keamanan di beberapa wilayah tertentu di Suriah.

“Kami dapat menerima perjanjian (Rusia, AS, dan Yordania) ini apabila diterapkan pada wilayah Suriah lainnya dan apabila mendukung kesepahaman-kesepahaman yang telah dicapai di Astana mengenai kawasan de-eskalasi,” ungkap Behram Qassemi.

Dia menekan bahwa Teheran meragukan perjanjian ini mengingat tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya oleh AS di kawasan.

Iran dan Rusia mendukung pemerintah Suriah secara politik maupun militer dalam melawan kubu oposisi. Keduanya menginginkan berlanjutnya kepemimpinan Bashar al-Assad yang menjabat presiden Suriah sejak Juli 2000 melanjutkan kepresidenan ayahnya, mendiang Hafez al-Assad (1971 – 2000). (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL